Observatorium Hong Kong menyatakan Badai Senyar, yang mengelilingi Selat Malaka pekan lalu, kini telah mereda di Laut China Selatan.
Pada Minggu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto mengatakan jalan-jalan yang rusak dan jaringan komunikasi yang terputus mempersulit upaya penyelamatan dan bantuan.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika menambahkan bahwa pemerintah juga telah melakukan sejumlah operasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengurangi curah hujan di daerah-daerah yang terdampak parah.
Di sisi lain, Petron Malaysia Refining & Marketing Bhd mengumumkan telah menghentikan operasi di kilang minyak mentahnya, imbas kerusakan akibat Badai Senyar.
Di Sri Lanka, jumlah korban tewas akibat banjir bandang meningkat tajam pada Minggu, hampir dua kali lipat menjadi 334 jiwa dan 370 orang hilang.
Menurut perkiraan cuaca, Topan Ditwah, yang mendarat di negara pulau tersebut pada Jumat, diperkirakan akan membawa hujan deras ke beberapa bagian selatan India pada Senin (1/12/2025).
Lintasan badai tersebut membuat Sri Lanka menghadapi "bencana alam terbesar dan paling menantang," kata Presiden Anura Kumara Dissanayake dalam pidato nasional pada Minggu malam.
Sementara itu, Badai Koto diperkirakan akan bertahan di perairan timur Vietnam saat perlahan melemah dalam beberapa hari ke depan.
Badai ini kemungkinan akan membawa lebih banyak hujan ke wilayah tengah dan utara-tengah Vietnam, yang telah dilanda badai dan banjir bersejarah yang menyebabkan kerugian setidaknya US$3 miliar dalam beberapa pekan terakhir.
Ramalam cuaca memperkirakan hujan akan mereda ke tingkat musiman di sebagian besar wilayah terdampak, mulai pertengahan pekan ini. Tren di Semenanjung Malaysia dan Sumatra diprediksi lebih kering sekitar pertengahan Desember.
(bbn)
































