“Kita perlu media untuk mencerdaskan rakyat, bukan menakut-nakuti. Karena keracunan yang ada belum menyebabkan orang meninggal. Risiko kanker baru bisa muncul setelah puluhan tahun,” katanya.
“Kita sebagai negara yang sedang berkembang harus mencegah sejak dini. Berapapun dosis radiasi, tetap harus dicegah supaya 10–15 tahun ke depan tidak menimbulkan penyakit,” tambahnya.
Sebelumnya, dugaan paparan Cs-137 ini mencuat setelah dua kontainer produk alas kaki asal Indonesia dikembalikan oleh otoritas Amerika Serikat karena diduga terkontaminasi bahan radioaktif. Sepatu-sepatu tersebut diketahui berasal dari pabrik di kawasan Cikande, Banten, yang belakangan juga ditemukan menyimpan besi tua mengandung Cs-137.
Ahli Epidemiologi dan Kesehatan Lingkungan Universitas Griffith, Dr. Dicky Budiman, PhD, menjelaskan bahwa Cs-137 merupakan isotop hasil peluruhan nuklir yang sangat berbahaya bagi manusia. “Kalau dosis tinggi dan akut, efeknya bisa muncul dalam hitungan jam hingga hari. Gejalanya seperti mual, muntah, diare, gangguan sumsum tulang, infeksi, hingga gagal organ,” ujar Dicky kepada Bloomberg Technoz.
Menurutnya, paparan jangka panjang dalam dosis menengah atau rendah pun bisa menimbulkan efek kronis yang tak kalah serius. “Efeknya bersifat akumulatif dan meningkatkan risiko kanker, seperti kanker tiroid, payudara, paru, atau leukemia. Bahkan bisa mengganggu fungsi reproduksi,” jelasnya. Efek laten ini dapat muncul lima hingga dua puluh tahun setelah terpapar.
Dicky menambahkan, Cs-137 mudah larut di udara dan dapat terserap dalam rantai makanan, terutama pada biota perairan. “Karena itu, bila limbah radioaktif tidak dikendalikan, zat ini bisa masuk ke tubuh manusia lewat konsumsi ikan, udang, atau hasil perairan lain di sekitar lokasi tercemar,” paparnya.
(dec/spt)






























