“Angka ini cukup untuk mendorong penurunan permintaan batu bara secara konsisten,” tulis IEA.
Kendati demikian, permintaan batu bara dapat berbalik menguat apabila tren adopsi EBT dan gas ke dalam sistem jaringan listrik stagnan.
“Dengan keamanan energi kini menjadi fokus utama banyak pemerintah, kebijakan mereka harus mempertimbangkan sinergi dan kompromi dengan tujuan lain seperti keterjangkauan, akses, daya saing, dan perubahan iklim,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol seperti dikutip dari siaran pers IEA, Rabu (12/11/2025).
Di sisi lain, IEA memperkirakan konsumsi untuk minyak dan gas bakal tetap menguat sampai 2050.
IEA beralasan tren kenaikan konsumsi migas itu disebabkan karena arah kebijakan energi di Amerika Serikat dan harga gas yang lebih rendah.
Menurut IEA, pasar minyak bakal tetap terpasok dengan baik dalam jangka pendek, menyusul kontribusi dari lima produsen di kawasan Amerika seperti Amerika Serikat, Kanada, Guyana, Brasil dan Argentina.
Penurunan produksi dari ladang minyak yang sudah ada, ditambah dengan terus meningkatnya konsumsi, akan dengan cepat menyerap kelebihan pasokan minyak global saat ini.
Untuk menjaga keseimbangan pasar, menurut IEA, dibutuhkan sekitar 25 juta barel minyak per hari pasokan baru dari proyeksi hingga tahun 2035.
Harga minyak pun diperkirakan naik dari level saat ini guna mendorong investasi baru di sektor hulu.
Di sisi lain, IEA memproyeksikan bakal terjadi kenaikan permintaan gas kendati masih terdapat kekhawatiran ihwal kemampuan serap atas LNG baru.
(naw)































