Dari pelaksanaan awal program tersebut, Kemenkes menemukan bahwa masalah kesehatan gigi dan kurang gerak masih lebih banyak ditemukan dibandingkan dengan gangguan mental. “Yang paling banyak itu gigi dan kurang gerak, kalau mentalnya masih agak di bawah,” kata Budi.
Ia menambahkan, pemeriksaan kesehatan jiwa di sekolah dilakukan dengan pendekatan jemput bola, di mana tim medis mendatangi langsung sekolah-sekolah. “Cek Kesehatan Gratis memang datang ke sekolah-sekolah. Kalau ada yang positif, baru dirujuk ke Puskesmas untuk ditangani tenaga kesehatan,” ujarnya.
Menkes berharap upaya ini dapat menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan mental sejak usia muda. “Menjaga keseimbangan hidup itu kunci. Kalau tubuh sehat tapi pikiran berat, hasilnya juga enggak maksimal,” tutupnya.
(dec/spt)






























