Lalu, keenam ada transformasi digital; ketujuh adalah investasi, dan; terakhir ada memprioritaskan belanja negara untuk produktivitas. Renstra tersebut juga menjadi acuan dalam pelaksanaan program kepada pejabat di lingkungan Kemenkeu.
Sebagai langkah konkret untuk mencapai target sasaran pembangunan dan strategi prioritas pembangunan, di dalam RPJMN Tahun 2025-2029 diidentifikasi beberapa kegiatan prioritas utama.
"Kegiatan prioritas utama disusun dengan memerhatikan kontribusi dari berbagai pihak baik K/L, Pemerintah Daerah, BUMN, Swasta dan stakeholders lainnya," tulis dokumen tersebut.
"Sebagai pengelola fiskal, Kemenkeu memiliki peran strategis dalam mendukung Kegiatan Prioritas Utama, terutama dalam rangka mendukung optimalisasi pendapatan negara, yaitu (1) Ekstensifikasi dan intensifikasi penerimaan perpajakan; dan (2) Intensifikasi Penerimaan Negara Bukan Pajak."
Sasaran tersebut juga diukur melalui beberapa indikator dengan perincian sebagai berikut.
- Meningkatkan pendapatan per kapita menuju setara negara maju, dengan indikator:
-
- Penumbuhan ekonomi dari 5,05% (2024) menjadi 5,3% (2025) dan menuju 8% (2029).
- GNI (Gross National Income) per kapita meningkat dari US$ 4.870 (2023) menjadi US$ 5.410 (2025) dan US$ 8.000 (2029).
- Kontribusi PDB Maritim meningkat dari 7,9% (2022 ) menjadi 8,1% (2025) dan 9,1%(2029).
- Kontribusi PDB Manufaktur meningkat dari 18,67% (2023) menjadi 20,8% (2025) dan 21,9% (2029).
- Kepemimpinan dan pengaruh di dunia internasional meningkat, dengan indikator Global Power Index yang meningkat, dari peringkat 34 (2023) menjadi peringkat 33 (2025) dan peringkat 29 (2029).
- Kemiskinan menurun dan ketimpangan berkurang, dengan indikator:
-
- Tingkat kemiskinan turun dari 9,03% (Mar 2024) menjadi 7,0-8,0% (2025) dan 4,5-5,0% (2029), serta kemiskinan ekstrem (2,15 PPP/Purchasing Power Parity) hingga <0,5% (2026).
- Rasio gini turun dari 0,379 (Mar 2024) menjadi 0,378-0,382 (2025) dan 0,372-0,375 (2029).
- Kontribusi PDRB KTI meningkat dari 20,9% (2023) menjadi 21,4% (2025) dan 22,4% (2029).
- Daya saing sumber daya manusia meningkat, dengan indikator Indeks Modal Manusia (lMM) meningkat dari 0,54 (2020) menjadi 0,56 (2025) dan 0,59 (2029).
- Intensitas emisi GRK menurun menuju net zero emission, dengan indikator:
- Penurunan intensitas emisi GRK dari 34,09% (2022) menjadi 35,53% (2025) dan 45,17% (2029).
- Indeks kualitas lingkungan hidup meningkat dari 72,54 (2023) menjadi 76,49 (2025) dan 77,20 (2029).
(red)

























