Langkah ini pada dasarnya merupakan komitmen AS untuk tidak memberlakukan tarif atau sanksi tambahan selama satu tahun, yang berasal dari hasil investigasi terhadap praktik China di sektor maritim, logistik, dan perkapalan. Namun, Trump dikenal kerap mengubah arah kebijakan perdagangannya secara tiba-tiba.
Investigasi berdasarkan Section 301 dari Trade Act tahun 1974 ini sebenarnya dimulai pada masa pemerintahan Presiden Joe Biden dengan dukungan dari serikat pekerja baja dan industri galangan kapal AS.
Penyelidikan Section 301 biasanya memakan waktu berbulan-bulan, tetapi memberikan dasar hukum kuat bagi penerapan tarif. Pada masa jabatan pertamanya, Trump telah menggunakan wewenang tersebut untuk mengenakan bea masuk terhadap sejumlah produk asal China.
Kebijakan untuk mengurangi dominasi Beijing di sektor maritim itu difinalisasi pada April lalu, dan pungutan terhadap kapal terkait China yang berlabuh di pelabuhan AS mulai berlaku 14 Oktober. Kapal yang dibangun sekaligus dioperasikan oleh perusahaan China dikenakan tarif tertinggi berdasarkan bobot kapal (net tonnage).
Mulai 9 November, AS semula berencana memberlakukan tarif 100% atas impor ship-to-shore cranes, intermodal chassis, dan komponennya dari China — kebijakan yang menargetkan peralatan pelabuhan buatan Negeri Tirai Bambu. USTR juga mengusulkan tarif tambahan hingga 150% untuk beberapa jenis alat bongkar muat asal China yang banyak digunakan di terminal pelabuhan AS.
Sebagai balasan, China dengan cepat menetapkan biaya tinggi bagi kapal milik AS yang berlabuh di pelabuhan China — berlaku pada hari yang sama dengan tarif AS. Beijing juga menjatuhkan sanksi terhadap anak perusahaan AS dari perusahaan pelayaran besar asal Korea Selatan karena rencana investasinya di sektor maritim AS.
Upaya untuk menghidupkan kembali industri galangan kapal AS mendapat dukungan luas dari Partai Republik dan Demokrat di Kongres, serta dari pelaku industri maritim domestik. Trump memanfaatkan penyelidikan ini, bersama kerja sama dengan Jepang dan Korea Selatan, untuk menyaingi pengaruh China yang semakin besar di sektor perkapalan global.
(bbn)































