"Kami belum memasuki fase itu untuk membahas hal-hal tersebut," kata Abu Marzouk dari Doha, ibu kota Qatar tempat banyak pejabat Hamas bermarkas. "Tujuan kami, stabilitas dan mencegah perang. Tujuan mereka, menghindari ancaman dan mencegah terulangnya peristiwa 7 Oktober," jelasnya, merujuk pada serangan Hamas terhadap Israel pada 2023.
Pernyataan Abu Marzouk menunjukkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan sebelum kesepakatan tahap selanjutnya dari rencana Trump dapat dicapai. Pemimpin AS itu memuji kesepakatan tersebut sebagai jaminan perdamaian jangka panjang antara Israel dan Hamas di Gaza, serta wilayah yang lebih luas.
Hamas membebaskan sisa sandera yang masih hidup yang ditangkap dalam serangan 7 Oktober setelah menyetujui gencatan senjata, meski sebelumnya tidak menunjukkan niat untuk melucuti senjata atau menyerahkan pemerintahan wilayah tersebut. Kelompok ini menyatakan hanya bersedia menyerahkan pemerintahan Gaza kepada pemerintah Palestina yang dipilih oleh rakyatnya.
Proses pengembalian jenazah sandera yang ditahan Hamas dan tewas selama perang tertunda, sehingga Israel berulang kali menuduh kelompok tersebut melanggar ketentuan gencatan senjata. Israel melancarkan serangan udara ke Gaza pekan lalu sebagai balasan atas serangan terhadap tentaranya, yang sempat membuat gencatan senjata diragukan.
"Kami juga memiliki tujuan: melindungi rakyat kami, menjaga perdamaian sosial, membangun kembali, dan memulihkan kehidupan rakyat kami," beber Abu Marzouk.
Rencana Trump menuntut Israel agar secara bertahap menyerahkan wilayah kepada pasukan multinasional sebelum mempertahankan "kehadiran perimeter keamanan yang akan tetap ada hingga Gaza benar-benar aman dari ancaman teror yang muncul kembali."
(bbn)





























