“Pemimpin itu manusia, apakah pemimpin maha paripurna? ya tidak. Pasti ada kekurangan tetapi pada esensinya mari kita punya rasa keadilan di hati kita, mari kita menjadi manusia yang jernih, mari lah kita menghormati orang tua, semua yang berjasa,” ujarnya.
Proyek strategis ini memiliki nilai investasi sebesar US$3,9 miliar atau sekitar Rp62,4 triliun, menjadikannya salah satu investasi petrokimia terbesar di kawasan Asia Tenggara, serta merupakan kompleks Naphtha Cracker pertama di Indonesia dalam 30 tahun terakhir.
Proyek ini merupakan bagian dari program strategis hilirisasi di sektor minyak dan gas bumi. Proyek ini dibangun sejak 2016 dan beroperasi komersial pada Oktober 2025.
Ketika beroperasi penuh, pabrik ini akan menghasilkan produk hilirisasi minyak dan gas bumi (migas) senilai US$2 miliar per tahun. Adapun, US$1,4 miliar merupakan substitusi impor dan US$600 juta berkontribusi pada peningkatan ekspor nasional.
Di pabrik ini, bahan baku berupa naphta sebesar 3,2 juta ton per tahun diolah menjadi produk hulu dan produk Hilir. Adapun, produk hulu berupa ethylene sebanyak 1 juta ton per tahun; propylene sebanyak 520.000 ton per tahun; mixed C4 sebanyak 320.000 per tahun; pyrolysis gasoline sebanyak 675.000 per tahun; pyrolisis fuel oil sebanyak 26.000 ton per tahun; dan hydrogen sebanyak 45.000 per tahun.
Sementara, produk hilir berupa high density poly ethylene sebanyak 250.000 ton per tahun; linear low density poly ethylene sebesar 200.000 ton per tahun; poly propylene 350.000 ton; butadine sebesar 140.000 ton per tahun; raffinate sebesar 180.000 ton per tahun; benzene, toluene, dan xylene sebesar 400.000 ton per tahun.
Produk-produk tersebut akan menjadi bahan baku pembuatan botol plastik, kabel, bumper mobil, peralatan medis, ban, karet sintesis, pembasmi serangga, dan cat.
(dov/frg)



























