Pasar Tenaga Kerja Nasional Membaik, Tanda Ekonomi Kuat
Redaksi
05 November 2025 13:15

Bloomberg Technoz, Jakarta - Pasar tenaga kerja Indonesia menunjukkan sinyal positif di tengah kondisi ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat peningkatan proporsi pekerja formal pada Agustus 2025 yang mencapai 42,20 persen dari total penduduk bekerja. Angka tersebut naik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yaitu 42,05 persen pada Agustus 2024.
Peningkatan ini menunjukkan arah perbaikan kualitas lapangan kerja di dalam negeri. Seiring dengan itu, tingkat pengangguran terbuka (TPT) juga mengalami penurunan, menandakan stabilitas ekonomi yang kian membaik serta berjalannya kebijakan ketenagakerjaan yang efektif.
BPS melaporkan bahwa TPT pada Agustus 2025 turun menjadi 4,85 persen dari sebelumnya 4,91 persen di Agustus 2024. Jumlah pengangguran terbuka kini mencapai 7,46 juta orang, menurun dari tahun sebelumnya. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, Moh. Edy Mahmud, menyampaikan bahwa tren ini memperlihatkan perbaikan nyata di sektor ketenagakerjaan nasional.
“Terjadi penurunan TPT, diikuti penurunan jumlah pengangguran terbuka menjadi 7,46 juta orang pada Agustus 2025,” ujar Edy dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (5/11).
Selain itu, ia menambahkan bahwa peningkatan proporsi pekerja formal terutama didorong oleh bertambahnya jumlah penduduk yang bekerja sebagai buruh, karyawan, atau pegawai di sektor-sektor produktif. “Proporsi penduduk yang bekerja pada kegiatan formal mengalami peningkatan selama Agustus 2024–Agustus 2025, utamanya didorong oleh meningkatnya penduduk yang bekerja sebagai buruh, karyawan atau pegawai,” jelasnya.
Pergeseran dari pekerjaan informal ke formal ini menjadi indikator penting bagi ekonomi Indonesia. Dengan semakin banyak pekerja formal, jaminan sosial, perlindungan kerja, serta stabilitas pendapatan masyarakat turut meningkat.
Pekerja Berpendidikan Tinggi Naik, SD ke Bawah Turun
Data BPS juga menunjukkan pergeseran komposisi pekerja berdasarkan tingkat pendidikan. Penduduk bekerja lulusan diploma ke atas mengalami kenaikan dari 10,50 persen pada Agustus 2024 menjadi 10,84 persen di Agustus 2025. Sebaliknya, penduduk bekerja berpendidikan SD ke bawah turun dari 35,80 persen menjadi 34,75 persen.
Kenaikan jumlah pekerja berpendidikan tinggi ini menunjukkan adanya peningkatan kapasitas dan daya saing tenaga kerja Indonesia. Sementara itu, menurunnya porsi pekerja berpendidikan rendah menandakan transformasi struktur tenaga kerja menuju sektor yang lebih produktif dan bernilai tambah tinggi.
Hal ini sejalan dengan arah pembangunan pemerintah yang mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan dan pelatihan vokasi. Peningkatan kualitas tenaga kerja diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi nasional dan memperluas lapangan kerja di sektor-sektor formal.
Dampak Positif bagi Ketahanan Ekonomi Rumah Tangga
Perbaikan struktur ketenagakerjaan menjadi angin segar bagi ketahanan ekonomi rumah tangga di Indonesia. Dengan bertambahnya jumlah pekerja formal, daya beli masyarakat berpotensi meningkat. Kondisi ini memberikan dorongan tambahan bagi konsumsi domestik, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Peningkatan pekerja formal juga berdampak pada kesejahteraan jangka panjang karena pekerja di sektor ini umumnya memiliki akses terhadap fasilitas jaminan sosial, seperti BPJS Ketenagakerjaan dan BPJS Kesehatan. Perlindungan tersebut berperan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi keluarga, terutama di masa ketidakpastian global.
“Secara umum, perbaikan kualitas pekerjaan ini menjadi tanda positif bagi ketahanan ekonomi rumah tangga,” terang Edy. Dengan begitu, peningkatan proporsi pekerja formal dapat menjadi faktor pendorong konsumsi domestik yang berkelanjutan.
Selain peningkatan jumlah pekerja formal, BPS juga melaporkan proporsi pekerja penuh waktu, paruh waktu, dan setengah pengangguran. Pada Agustus 2025, pekerja penuh waktu tercatat sebesar 67,32 persen, pekerja paruh waktu mencapai 24,77 persen, dan setengah pengangguran sebesar 7,91 persen.
Komposisi ini menunjukkan bahwa mayoritas penduduk bekerja memiliki jam kerja penuh, yang menandakan meningkatnya produktivitas dan keterlibatan tenaga kerja dalam aktivitas ekonomi. Tren tersebut juga memperlihatkan bahwa pemulihan pasar tenaga kerja pasca-pandemi terus berlangsung dengan arah yang positif.
Dengan berbagai indikator yang menunjukkan perbaikan, pasar tenaga kerja Indonesia memasuki fase konsolidasi yang kuat. Peningkatan pekerja formal, penurunan pengangguran, serta bertambahnya pekerja berpendidikan tinggi mencerminkan transformasi ekonomi menuju arah yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Jika tren ini terus berlanjut, Indonesia berpeluang memperkuat fondasi ekonominya melalui peningkatan kualitas tenaga kerja yang produktif, kompetitif, dan adaptif terhadap perubahan global.





























