UPS mengatakan pesawat MD-11 dengan tiga awak terlibat dalam kecelakaan dan belum mengonfirmasi ada korban luka-luka atau jiwa.
Boeing Co, yang mengambil alih McDonnell Douglas pada 1997, mengaku siap mendukung pelanggannya dan menawarkan bantuan teknis pada Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB). Perusahaan mengatakan akan "bekerja tanpa henti" dengan otoritas negara bagian dan lokal dalam upaya tanggap darurat.
Dalam pernyataan di X, UPS mengatakan sedang bekerja sama dengan NTSB dan tetap berkomunikasi dengan Badan Penerbangan Federal (FAA). Perusahaan juga mengatakan telah menghentikan operasi penyortiran paket untuk malam itu di fasilitas tersebut, yang merupakan pusat global utama UPS dan dikenal sebagai Worldport.
Penyebab kecelakaan belum teridentifikasi. Biasanya, insiden semacam ini dipicu oleh satu atau lebih faktor operasional, mekanis, dan lingkungan, yang ditentukan oleh penyelidik selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Situs pelacakan penerbangan Flightradar24 menunjukkan pesawat berusia 34 tahun, yang diberi kode penerbangan UPS 2976, mencapai kecepatan lepas landas dan naik hingga sekitar 53 meter sebelum jatuh ke darat.
"Siapa pun yang telah melihat gambar dan video tahu betapa dahsyatnya kecelakaan ini," kata Beshear kepada wartawan dalam konferensi pers pada Selasa pagi. Ia menambahkan bahwa belum ada informasi mengenai kondisi ketiga awak pesawat tersebut.
Pihak berwenang menjelaskan beberapa ledakan, api yang masih berkobar, dan puing-puing yang berpotensi mudah terbakar di Bandara Muhammad Ali, Louisville mempersulit upaya tim tanggap darurat untuk mencari korban dan mengamankan area tersebut.
Insiden ini menambah daftar kecelakaan mematikan bagi penerbangan global. Tiga pekan lalu, pesawat kargo tergelincir keluar dari landasan pacu dan jatuh ke laut di Bandara Internasional Hong Kong, menewaskan dua anggota kru darat.
Pada Juni, 241 orang tewas dalam kecelakaan pesawat Air India yang jatuh tak lama setelah lepas landas, dan pada Januari, helikopter Angkatan Darat AS bertabrakan dengan jet regional American Airlines Group Inc saat mendekati Bandara Ronald Reagan di Washington.
The news out of Louisville is tough tonight as the death toll has now reached at least 7, with that number expected to rise. First responders are onsite and working hard to extinguish the fire and continue the investigation. 1/3
— Governor Andy Beshear (@GovAndyBeshear) November 5, 2025
Kecelakaan ini terjadi di tengah meluasnya gangguan perjalanan udara di seluruh AS akibat kekurangan petugas pengatur lalu lintas udara sejak penutupan pemerintah (government shutdown) dimulai pada 1 Oktober.
FAA menyatakan pihaknya bersama NTSB akan melakukan penyelidikan atas insiden ini, yang dipimpin oleh NTSB. NTSB mengatakan tim investigasinya akan tiba pada Rabu.
Jet berbadan lebar dan bermesin tiga, versi lebih panjang dari DC-10, diluncurkan pada 1986, tetapi dikalahkan oleh model bermesin ganda yang lebih efisien seperti Boeing 777. UPS mengoperasikan 27 unit pesawat jenis ini hingga 30 September, menurut laporan perusahaan, dan merupakan salah satu operator terbesar MD-11, disusul pesaingnya, FedEx Corp.
Pesawat yang mengalami kecelakaan itu awalnya diproduksi untuk Thai Airways International pada awal 1990-an sebelum diubah menjadi pesawat kargo sekitar 20 tahun lalu untuk UPS. Pesawat tersebut ditenagai oleh tiga mesin General Electric Co, CF6.
#5X2976 was operated by an MD-11(F) registered N259UP. The 34 year old aircraft was converted to cargo and began operations with UPS in 2006. https://t.co/QaU8Y7iLvM pic.twitter.com/kXimU8l4fk
— Flightradar24 (@flightradar24) November 4, 2025
Kecelakaan lain yang melibatkan operasi UPS termasuk penerbangan UPS 6 pada September 2010, ketika Boeing 747-400F jatuh di dekat Dubai setelah mengalami kebakaran kargo di udara, menewaskan kedua awaknya.
Pada Agustus 2013, pesawat Airbus A300-600F jatuh sebelum mencapai landasan pacu di Birmingham, Alabama, menewaskan kapten dan kopilot. Otoritas menyebut kelelahan, kesalahan pilot, dan ketidakstabilan pesawat sebagai kemungkinan penyebab kecelakaan itu.
Informasi yang dikumpulkan sejauh ini dari lokasi kecelakaan di Kentucky menunjukkan setidaknya dua perusahaan terdampak, termasuk perusahaan daur ulang minyak bumi dan toko suku cadang mobil. Keduanya telah mengonfirmasi bahwa semua karyawan mereka selamat, kecuali dua orang.
Namun, "mereka tidak tahu berapa banyak orang lain, pelanggan, atau pihak lain yang mungkin di lokasi pada saat itu," kata Beshear, sambil menambahkan bahwa mungkin membutuhkan waktu bagi pihak berwenang untuk menentukan informasi tersebut.
(bbn)































