Logo Bloomberg Technoz

Meski begitu, Deddy menyebut perlu kajian cost & benefit atas pembangunan Kereta Api Cepat relasi Jakarta-Surabaya. Sebab, untuk kelayakan ke Surabaya pastinya berpotensi mengurangi traffic penerbangan sipil di Jawa utara.

"Karena saat ini traffic penerbangan sipil sudah terlalu padat, karena traffic penerbangan Jawa selatan tidak bisa digunakan karena untuk traffic penerbangan militer. Dipandang perlunya diskursus perjalanan angkutan umum di bawah 1.000 km dilayani Kereta Api Cepat, sedangkan di atas 1.000 km dilayani oleh penerbangan," ucapnya.

Sementara itu dalam menyelesaikan polemik utang proyek pemerintah ini, Deddy berpendapat, pemerintah dapat melakukan negosiasi ulang utang dengan pergantian kurs utang dari dolar AS diganti ke Yuan. Sebab, bila tetap menggunakan dolar AS jika rupiah tertekan US$ maka utang dapat membengkak. 

Kemudian, untuk kesehatan financial KCIC perlu dibuatkan bisnis model lain. Misalnya, non fare box untuk pembangunan TOD atau TJD di simpul stasiun KCIC Karawang, KCIC Padalarang. TOD/TJD secara finansial dapat mambantu pemasukan KCIC di sektor sewa lahan/tenant.

Sisi lainnya, dengan adanya TOD/TJD di simpul-simpul stasiun KCIC maka secara alamiah akan menimbulkan bangkitan dan tarikan baru perjalanan oleh masyarakat. 

Polemik keengganan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa untuk menutupi pembiayaan utang Kereta Cepat Jakarta–Bandung (KCJB) atau Whoosh menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) memasuki babak baru.

Diketahui, proyek ini menyimpan beban finansial yang besar. Nilai investasinya yang semula diperkirakan sekitar US$6 miliar kemudian membengkak hingga US$7,27 miliar atau lebih dari Rp115 triliun.

Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN) Luhut Binsar Pandjaitan meminta agar utang kereta cepat itu direstrukturisasi. Menurut Luhut, proyek itu saat pembangunan sudah dalam kondisi bermasalah dan dipastikan menimbulkan beban.

"Itu kan tinggal restructuring saja. Siapa yang minta APBN? tak ada yang minta APBN. Restructuring saja. Saya sudah bicara dengan China. Karena saya yang dari awal mengerjakan itu, karena saya terima sudah busuk itu barang," ujar Luhut di Jakarta, dikutip Sabtu (18/10/2025).

(ain)

No more pages