Lebih lanjut, Dinna menjelaskan rencana proyek DME tetap berada di kawasan Tanjung Enim, Sumatera Selatan. “Rencananya memang masih di kawasan Tanjung Enim, tapi semua masih dalam kajian. Intinya, apa pun penugasan pemerintah, PTBA akan mendukung penuh,” tuturnya.
Meski belum ada kejelasan pendanaan, Dinna menyebut kerja sama yang paling aktif sejauh ini datang dari pihak China, sementara opsi lainnya masih dikaji.
Sebelumnya, proyek DME yang dikembangkan PTBA tercatat memiliki kebutuhan investasi sekitar US$2,5 miliar atau setara Rp41,45 triliun, dengan potensi penggunaan batu bara hingga 6 juta ton per tahun. Proyek ini sempat direncanakan untuk menggantikan impor liquefied petroleum gas (LPG) nasional melalui pemanfaatan batu bara kalori rendah di wilayah Tanjung Enim.
Proyek gasifikasi batu bara menjadi DME sebelumnya sempat gagal dilaksanakan setelah Air Products & Chemicals Inc. (APCI), investor asal Amerika Serikat, memutuskan mundur pada 2023. Setelah itu, pemerintah menugaskan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara untuk melanjutkan proyek tersebut bersama PTBA dan mitra baru.
Hingga saat ini, PTBA bersama Danantara masih menunggu finalisasi investasi dan hasil kajian keekonomian untuk menentukan kelanjutan proyek tersebut.
(dhf)





























