Logo Bloomberg Technoz

Namun hingga kepergian Gus Dur, keinginan itu belum terwujud. Sinta mengakui bahwa dirinya sempat merasa tidak berdaya, hingga akhirnya dukungan datang dari sahabat-sahabat Gus Dur.

“Seorang sahabat beliau berkata kepada saya, ‘Aku ini sahabatnya Gus Dur, kalau terjadi apa-apa saya juga ikut bertanggung jawab.’ Ucapan itu menggebrak hati saya untuk berbuat sesuatu, meski saat itu saya tidak punya uang sedikit pun,” kisahnya.

Dari semangat dan dukungan itu, proses perencanaan mulai berjalan. Sinta dibantu oleh sejumlah arsitek muda untuk mewujudkan desain bangunan yang sesuai dengan cita-cita Gus Dur, sebuah pusat pembelajaran Islam yang terbuka, progresif, dan berakar pada nilai-nilai kemanusiaan.

Semangat kebersamaan dan gotong royong menjadi kekuatan utama dalam mewujudkan pusat kajian tersebut. Pusat ini diharapkan menjadi tempat berkumpulnya para pemikir lintas agama, budaya, dan bangsa yang memiliki visi kemanusiaan dan perdamaian seperti yang diajarkan oleh Gus Dur.

Dalam kesempatan yang sama, Sinta juga menyampaikan apresiasi kepada para sahabat yang membantu, termasuk dukungan dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang berkomitmen untuk ikut merealisasikan pembangunan tersebut.

(Dok. Ist)

“Bapak Gubernur menyambut dengan baik dan berjanji membantu sebaik-baiknya agar keinginan Gus Dur dapat terwujud,” ucapnya.

Dukungan pemerintah daerah menjadi sinyal positif bahwa nilai-nilai toleransi, kemanusiaan, dan keterbukaan yang diperjuangkan oleh Gus Dur masih mendapat tempat penting di ruang publik Indonesia.

Meneruskan Spirit Islam yang Terbuka

Pusat Kajian Islam Asia Tenggara KH. Abdurrahman Wahid diharapkan menjadi ruang dialog dan riset lintas agama, budaya, dan bangsa, selaras dengan visi Gus Dur untuk menegakkan nilai kemanusiaan, keadilan, dan perdamaian dunia melalui Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Pusat ini nantinya juga akan berfungsi sebagai wadah pertukaran pemikiran antar generasi, tempat para peneliti dan akademisi mendalami nilai-nilai universal dalam Islam, serta menjadi simbol warisan intelektual Gus Dur yang terus relevan di tengah perubahan zaman.

(Dok. Ist)

Di penghujung sambutan, Sinta Nuriyah menutup dengan doa dan harapan agar proses pembangunan dapat berjalan dengan lancar dan memberikan manfaat bagi banyak pihak.

“Semoga keinginan ini dapat terwujud sebaik-baiknya, mendapat ridho dari Allah SWT, dan memberikan manfaat bagi umat manusia,” tutupnya.

Peletakan batu pertama ini bukan hanya dimaknai sebagai awal pembangunan fisik, melainkan juga simbol kelanjutan warisan pemikiran dan perjuangan Gus Dur. Melalui pusat kajian ini, semangat keterbukaan, pluralisme, dan kemanusiaan yang menjadi inti ajaran Gus Dur diharapkan terus hidup dan menginspirasi generasi masa depan.

(tim)

No more pages