Logo Bloomberg Technoz

 “Jangan hanya berasumsi air pegunungan pasti aman. Semua tergantung pada perlindungan sumber dan proses pengolahannya,” ujarnya.

Menurut Dicky, secara alami mata air tertutup atau sumber yang terlindung menjadi yang paling aman, disusul air sumur dalam yang diuji rutin. Sebaliknya, air sungai atau air permukaan tanpa pengolahan memadai berisiko tinggi karena rawan tercemar pestisida, limbah industri, maupun polutan organik. 

“Semua sumber bisa aman asal diolah dengan filtrasi, disinfeksi, dan kontrol kualitas yang baik,” katanya.

Ia juga menyoroti dampak ekologis dari ekstraksi air tanah industri yang berlebihan, yang dapat menurunkan muka air tanah (land subsidence) dan mengurangi debit mata air warga.

“Ini bukan hanya soal kualitas, tapi juga keberlanjutan. Penurunan tanah dan kehilangan kapasitas akuifer berdampak pada ekosistem serta ketersediaan air jangka panjang,” tutur Dicky.

Sebagai langkah mitigasi, Dicky menyarankan agar izin pengambilan air tanah berbasis daya dukung akuifer, disertai konservasi daerah resapan, audit lingkungan, dan kompensasi bagi warga terdampak. 

“Kuncinya bukan di sumber, tapi di rencana keselamatan air dan manajemen risikonya,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan penerapan di Australia dan Jepang, di mana pengawasan kualitas air dijalankan dengan ketat melalui sistem rencana keselamatan air dan publikasi hasil uji berkala. 

“Di sana, bahkan air keran diuji rutin dan aman diminum. Transparansi itu yang harus ditiru,” katanya.

Kasus AQUA menjadi sorotan publik setelah mencuat laporan bahwa sebagian produksinya menggunakan sumur bor, bukan seluruhnya dari sumber mata air pegunungan seperti yang dipersepsikan konsumen. 

Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai kualitas, izin ekstraksi, dan dampaknya terhadap lingkungan. Namun, menurut Dicky, yang lebih penting dari asal sumber adalah pengawasan mutu dan keterbukaan data kualitas air kepada publik.

“Air pegunungan maupun sumur bor bisa sama-sama aman, asal prosesnya memenuhi standar keselamatan air. Tanpa itu, risiko kesehatan tetap tinggi,” pungkasnya.

(dec/spt)

No more pages