“Arah perbaikan peringkat di mata kami seharusnya lebih didorong oleh fundamental atau kinerja Garuda itu sendiri,” katanya. “Perbaikan yang bersifat fundamental dan struktural justru akan lebih berpengaruh terhadap peningkatan peringkat.”
Seperti yang diketahui, BPI Danantara berencana mengucurkan puluhan triliun dana segar ke GIAA dalam rangka restrukturisasi. suntikan modal tersebut dilakukan melalui dua skema, yakni setoran tunai senilai US$1,441 miliar (Rp23,39 triliun) serta konversi pinjaman pemegang saham atau shareholder loan (SHL) sebesar US$405 juta (Rp6,56 triliun).
Dalam aksi korporasi ini, Garuda akan menerbitkan 407,90 miliar saham baru dari portepel dengan harga pelaksanaan Rp75 per saham, berdasarkan hasil penilaian wajar oleh KJPP Areyanto & Rekan. Seluruh saham baru tersebut akan diklasifikasikan sebagai saham Seri D.
Teranyar, GIAA sendiri melakukan perombakan besar-besaran di tubuh pengurus. Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) pada Rabu (15/10/2025), Garuda Indonesia mengumumkan perubahan susunan direksi dan dewan komisaris. Glenny H. Kairupan diangkat menjadi Direktur Utama menggantikan Wamildan Tsani Panjaitan, yang baru menjabat sebagai Dirut selama 11 bulan.
Sementara dua warga negara asing, Balagopal Kunduvara dan Neil Raymond Mills turut bergabung sebagai Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko serta Direktur Transformasi.
(dhf)
































