Hanya saja, Purbaya menduga kenaikan itu imbas adanya guyuran likuiditas sebesar Rp200 triliun ke Himbara.
Tambahan likuiditas kepada 5 perbankan pelat merah itu diharapkan dapat mendorong permintaan masyarakat, yang pada akhirnya juga kembali menaikkan permintaan listrik.
"Artinya apa? Dampak kebijakan Rp200 triliun beberapa waktu yang lalu sudah mulai terlihat di perekonomian. Jadi kelihatannya demand mulai menggeliat.,"
"Ke depan, saya akan minta update ke dirut PLN mungkin setiap 2 minggu datanya seperti apa. Kita akan lihat. Kalau memang masih bisa didorong, kita dorong lagi."
Sepanjang semester I tahun ini, PLN melaporkan penjualan listrik sebesar 155,62 Terawatt hour (TWh). Angka ini tumbuh 4,36% year on year (YoY) dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 149,11 TWh.
Peningkatan itu juga turut membuat kenaikan laba periode berjalan menjadi sebesar Rp6,64 triliun, atau tumbuh 32,8% dibandingkan Rp5 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Peningkatan laba turut ditopang oleh naiknya pendapatan perseroan yang mencapai Rp281,89 triliun per Juni 2025, tumbuh 7,57% dari Rp262,06 triliun pada Semester I 2024.
Dari sisi segmennya, sektor rumah tangga tercatat sebagai penyumbang terbesar dalam total penjualan listrik nasional, dengan konsumsi mencapai 67,14 TWh pada Semester I 2025.
Angka ini tumbuh 5,13% YoY, setara dengan peningkatan 3,27 TWh, dan memberikan kontribusi sebesar 43,14% dari total penjualan.
Sementara itu, sektor industri mencatat konsumsi sebesar 1.165 gigawatt hour (GWh), tumbuh 2,66% secara tahunan.
(ibn/naw)




























