Sementara itu rata-rata unit nilai ekspor batu bara juga susut 16,62% ke level US$63,48 per ton, lebih rendah dari posisi tahun sebelumnya di level US$76,14 per ton.
Kendati demikian, kinerja ekspor komoditas nonmigas unggulan Indonesia lainnya seperti besi dan baja serta CPO dan turunnya kompak mencatatkan penguatan.
Ekspor besi dan baja lompat 10,24% ke level US$18,29 miliar dari posisi tahun sebelumnya di angka US$16,59 miliar.
Selain itu, kinerja ekspor CPO dan turunannya ikut menguat 35,23% ke level US$16,66 miliar, dari posisi periode tahun sebelumnya di angka US$12,32 miliar.
“Tiga besar negara tujuan ekspor adalah China, Amerika Serikat dan India, nilai ekspor ketiga negara ini mencapai 41,82% dari total ekspor nonmigas Indonesia,” kata Habibullah.
Menurut data BPS sampai Agustus 2025, ekspor bahan bakar mineral dengan kode HS 27 ke China mencapai US$5,91 miliar dan India mencapai US$3,69 miliar.
Adapun, BPS mencatat kinerja nilai ekspor Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2025 tercatat US$185,13 miliar atau naik 7,72% dibanding periode yang sama tahun lalu.
Nilai ekspor migas tercatat US$9,04 miliar atau turun 14,14%. Sementara itu, nilai ekspor non-migas naik 9,15% menjadi US$176,09 miliar.
Secara keseluruhan, BPS mencatat neraca perdagangan barang Indonesia mengalami surplus sebesar US$5,49 miliar per Agustus 2025.
Kinerja neraca perdagangan kali ini lebih tinggi dibanding proyeksi konsensus pasar yang memperkirakan surplus neraca perdagangan hanya akan berada di level US$4 miliar.
"Penyumbang surplus yakni komoditas lemak dan minyak hewani/nabati, bahan bakar mineral serta besi dan baja," ujar Habibullah.
Pada saat yang sama, neraca perdagangan komoditas migas tercatat defisit US$1,66 miliar dengan komoditas penyumbang defisit adalah minyak mentah dan hasil minyak.
(naw)





























