Ukraina telah memperkuat upaya untuk memperoleh sistem pertahanan udara guna melindungi aset energi setelah serangkaian serangan memicu pemadaman listrik di sebagian besar wilayah negara tersebut.
Menjelang musim dingin (November-Maret), Rusia mengintensifkan serangannya sebagai bagian dari strategi terencana untuk melumpuhkan sistem energi Ukraina dan menurunkan moral penduduknya setelah serangan musim panas gagal mencapai tujuan.
Kyiv juga meningkatkan serangan terhadap pasokan energi Rusia sebagai bagian upaya untuk memaksa Presiden Vladimir Putin ke meja perundingan. Zelenskiy mengatakan ia menyinggung masalah pengadaan rudal jarak jauh Tomahawk—salah satu senjata paling canggih di gudang senjata AS, opsi yang pernah diusulkan pemerintahan Trump sebagai sebuah kemungkinan.
"Masih terlalu dini untuk membicarakan jumlah dan kemungkinannya," kata Zelenskiy menjawab pertanyaan tentang Tomahawk. Ia memaparkan opsi pembiayaan pengiriman tersebut, termasuk dari sekutu NATO Ukraina, sumber daya mineral, atau aset Rusia yang dibekukan.
Energi
Pada Jumat, Bloomberg News melaporkan bahwa meski serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina sudah menjadi hal biasa setelah lebih dari tiga tahun perang, para perencana perang Rusia mengklaim mereka memiliki kebebasan lebih besar untuk merusak infrastruktur gas setelah Kyiv menutup jaringan pipa transit ke Eropa.
Kunjungan ke AS akan mencakup pertemuan dengan anggota Kongres AS dan pejabat militer. Zelenskiy mengatakan dia juga berencana bertemu para eksekutif perusahaan energi, atas dorongan Trump, saat Ukraina mencari cara untuk mempertahankan diri dari "format baru" serangan Rusia.
Delegasi Ukraina, termasuk Perdana Menteri Yuliia Svyrydenko dan Kepala Staf Zelenskiy, Andriy Yermak, telah terbang ke AS.
Selama kunjungan Kallas ke Kyiv, Zelenskiy juga menegaskan Ukraina akan berusaha membahas impor gas alam dari Uni Eropa, Norwegia, dan negara-negara lain di Timur Tengah.
"Kami memiliki perkiraan tentang apa yang kami butuhkan, tetapi sebagian besar masalahnya soal uang," beber Zelenskiy. "Namun, kami akan mengatasinya."
Pemimpin Ukraina itu mengatakan ada "kemajuan yang pasti" dalam masalah pencairan aset bank sentral Rusia yang dibekukan, seperti yang dikatakan Kallas bahwa perundingan mengenai hal tersebut sedang berlangsung.
Uni Eropa semakin yakin bahwa memanfaatkan sekitar €200 miliar (US$232 miliar) dari aset tersebut merupakan satu-satunya cara yang layak untuk menempatkan pendanaan bagi Ukraina pada landasan yang berkelanjutan, sebab sumber pendanaan lain telah habis.
Menurut para narasumber yang mengetahui, Uni Eropa akan berupaya mencapai kesepakatan politik untuk menggunakan aset tersebut pada KTT para pemimpin di Brussel pekan depan. Setelah kesepakatan tercapai, eksekutif blok tersebut akan segera mulai mengerjakan proposal hukum untuk mekanisme pencairan dana pada kuartal kedua tahun depan.
Kallas mengatakan Uni Eropa juga sedang mempertimbangkan cara-cara untuk membantu Kyiv dalam memperbaiki dan melindungi infrastruktur.
(bbn)































