Karena ekonomi China "melambat secara bertahap," tingkat pertumbuhan jangka menengah kini berkisar 3% dibandingkan 3,7% sebelum pandemi Covid-19.
Mengenai tarif, Georgieva bergabung dengan mereka yang berpendapat bahwa dampak ekonomi dari kebijakan Presiden Donald Trump akan membutuhkan waktu lebih lama untuk terlihat: "Dampak penuhnya masih akan terlihat."
Pertemuan Washington
IMF dijadwalkan merilis proyeksi baru dalam Laporan Prospek Ekonomi Global pekan depan, saat para menteri keuangan dan gubernur bank sentral berkumpul untuk menilai kondisi ekonomi global yang terguncang oleh berbagai guncangan, mulai dari tarif impor AS hingga kelebihan kapasitas China.
Para pemangku kebijakan ekonomi dan moneter akan bertemu saat harga emas—secara tradisional merupakan aset safe haven selama periode turbulensi—menembus US$4.000 per troy ons di tengah kekhawatiran terhadap ekonomi AS. Penutupan (shutdown) pemerintah di Washington menambah momentum baru bagi reli emas batangan.
Permintaan emas merupakan tanda bahwa "ketahanan global belum sepenuhnya teruji," papar Georgieva, seraya menekankan bahwa cadangan emas moneter kini melebihi seperlima cadangan resmi dunia.
Dia juga memberikan peringatan tentang "kondisi keuangan yang longgar," tanpa menyebut pasar atau negara tertentu.
Indeks saham AS mencapai rekor tertinggi bulan ini, didorong oleh lonjakan saham perusahaan kecerdasan buatan (AI) dan teknologi.
"Valuasi pasar saat ini sedang menuju level yang kita lihat selama euforia optimisme internet 25 tahun lalu," katanya. "Jika terjadi koreksi tajam, kondisi keuangan yang lebih ketat dapat menghambat pertumbuhan dunia, mengekspos kerentanan, dan membuat kehidupan semakin sulit bagi negara-negara berkembang."
Kondisi keuangan yang longgar "hanya menutupi, bukan menghentikan beberapa tren pelemahan, termasuk dalam penciptaan lapangan kerja," ungkap Georgieva.
'Raja Pasar Tunggal'
Dia juga memberikan beberapa nasihat bagi mesin ekonomi utama dunia—AS, China, dan Uni Eropa.
Warga negara Bulgaria ini mendesak Eropa mempertimbangkan penunjukan "raja pasar tunggal" untuk mendorong reformasi yang diperlukan di kawasan tersebut guna meningkatkan daya saing dan "mengejar dinamika sektor swasta AS."
Georgieva menilai China membutuhkan "paket fiskal-struktural" untuk mendongkrak konsumsi swasta. Ekonomi terbesar kedua di dunia ini juga perlu "beralih ke model pertumbuhan baru dan mengembalikan daya beli ekonominya," yang juga akan "membantu menanggulangi depresiasi nilai tukar riil yang baru-baru ini terjadi, yang menghambat upaya penyeimbangan kembali."
AS, katanya, perlu mengatasi defisit anggaran federal dengan langkah-langkah seperti "tindakan berkelanjutan yang melampaui pengeluaran diskresioner" dan memberikan insentif bagi tabungan rumah tangga melalui kebijakan seperti memperluas perlakuan pajak yang menguntungkan untuk tabungan pensiun.
(bbn)































