“Itu tentunya lebih murah dibandingkan cost of fund perbankan yang kita tempatkan kas kita. Sehingga ini perkembangannya cukup menarik, sudah ada realisasinya, rata-rata sudah cukup tinggi,” ujarnya.
Dengan adanya tambahan likuiditas dan bunga yang murah, kata Febrio, pemerintah berharap agar perbankan bisa memprioritaskan uang tersebut untuk disalurkan kepada sektor riil. Sehingga, pemerintah menargetkan pertumbuhan kredit bisa mencapai 10% hingga akhir tahun.
Sekadar catatan, Bank Indonesia melaporkan bahwa kinerja pertumbuhan kredit Perbankan hingga Agustus 2025 masih terbilang lesu atau hanya mengakumulasi kenaikan sebesar 7,56% secara tahunan (yoy), naik sedikit dari bulan sebelumnya yang masih sebesar 7,03%.
Capaian tersebut juga terbilang masih cukup jauh dari target pertumbuhan kredit sepanjang tahun ini yang dipatok oleh otoritas moneter negara di kisaran 8 —11%.
(lav)




























