Faktor Risiko
Faktor risiko cedera beragam. Pemain berusia di atas 30 tahun, pengalaman bermain yang terbatas, frekuensi latihan mingguan tinggi, pemanasan tidak memadai, dan karakteristik raket tertentu, seperti berat dan bentuk, dapat meningkatkan risiko.
Perbedaan berdasarkan jenis kelamin juga tercatat: wanita cenderung lebih rentan cedera ligamen, sedangkan pria lebih sering mengalami cedera otot. Intensitas dan durasi latihan, terutama 3,5–5 jam per minggu, turut meningkatkan risiko cedera.
Mekanisme cedera pada padel sering terkait gerakan cepat, perubahan arah mendadak, dan pukulan overhead berulang. Dua dari lima pemain mengalami setidaknya satu cedera dalam setahun terakhir, dengan lebih dari setengah cedera non-profesional membutuhkan pemulihan lebih dari sebulan.
Mayoritas cedera menyerang tungkai bawah, terutama pergelangan kaki, akibat inversi dan rotasi internal mendadak saat perubahan arah.
Cedera anggota atas, termasuk bahu dan siku, juga signifikan. Pukulan overhead yang berulang dapat menyebabkan masalah pada rotator cuff, bursitis, dan epikondilitis.
Perbedaan proporsi cedera anggota atas dibanding olahraga raket lain diduga karena ukuran lapangan padel yang lebih kecil, sehingga frekuensi pukulan lebih tinggi. Diagnosis dini perubahan gerakan tubuh sangat penting untuk strategi rehabilitasi yang efektif.
Selain cedera anggota tubuh, studi di Swedia menunjukkan risiko cedera mata pada pemain padel, terutama akibat lapangan kecil, kedekatan pemain, ukuran dan kecepatan bola, serta pantulan bola yang tidak terduga.
Para peneliti merekomendasikan penggunaan kacamata pelindung untuk mengurangi cedera mata (Priego-Quesada et al., 2022; studi Swedia).
Pencegahan cedera menjadi kunci bagi pelatih dan atlet. Program latihan yang menekankan postur tubuh, kekuatan inti, serta pemeriksaan pra-musim, baik klinis maupun instrumental seperti elektromiografi permukaan, dapat mengidentifikasi defisit gerakan atau neuromuskular.
Latihan berlebihan atau teknik yang kurang tepat dapat meningkatkan risiko cedera, sehingga istirahat dan pemulihan yang cukup sangat penting.
Singkatnya, dua dari lima pemain padel mengalami cedera setiap tahun, sebagian besar pada tungkai bawah dengan keseleo pergelangan kaki sebagai cedera paling umum.
Cedera anggota atas akibat pukulan overhead, serta cedera mata karena pantulan bola tak terduga, menekankan pentingnya kacamata pelindung dan program pencegahan yang terstruktur (Demeco et al., 2022; Priego-Quesada et al., 2022).
Cedera yang ditemukan di Indonesia
Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, Sp. KO., Subsp. ALL (K), menyebut bahwa data cedera padel di Indonesia belum tersedia secara valid.
Namun, berdasarkan pengalaman praktik, kasus cedera padel cukup sering ditemui. “Di tempat praktik saja, setiap hari ada minimal 1–3 pasien dengan cedera padel,” ujarnya.
Jenis cedera yang ditemui beragam, tergantung diagnosa masing-masing pasien. Beberapa kasus meliputi keseleo pergelangan kaki, cedera lutut, ketegangan otot, hingga cedera siku akibat pukulan berulang.
Menurut dr. Andi, fenomena ini menunjukkan perlunya program pencegahan dan edukasi bagi penggemar padel di Indonesia, terutama mereka yang bermain dengan frekuensi tinggi atau teknik yang belum sempurna.
(dec/spt)






























