Logo Bloomberg Technoz

“Kalau misalnya mau dibangun pabrik atau apa, energinya harus dipikirkan. Ditarik kabel PLN kah? Atau create dari hidro?,” kata Eniya.

Ilustrasi lahan tebu./Bloomberg-Valeria Mongelli

Sebelumnya, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menargetkan pembangunan pabrik pengolahan tebu itu rampung pada 2027.

Rencanannya, pabrik itu akan mengolah tebu dari lahan seluas 2 juta hektare (ha) yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional (PSN) Kebun Tebu di Distrik Jagebob, Merauke.

“Untuk di Merauke, ini untuk bioetanol, ini kan juga sudah dilakukan, ini proses untuk penanaman oleh Presiden Jokowi tempo hari dan juga ini untuk pembangunan pabrik diharapkan bisa selesai pada 2027,” kata Yuliot kepada awak media di Jakarta Selatan, Selasa (23/9/2025).

Sekadar catatan, Kementerian ESDM sebelumnya berencana untuk menargetkan bauran bioetanol pada jenis bahan bakar minyak (BBM) umum (JBU) sebesar 10% pada 2030.

Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Edi Wibowo mengatakan target tersebut bakal termaktub dalam revisi Peraturan Menteri ESDM Nomor 32 Tahun 2008 tentang Penyediaan, Pemanfaatan dan Tata Niaga Bahan Bakar Nabati (Biofuel) sebagai Bahan Bakar Lain, yang saat ini masih berjalan.

Adapun, bauran tersebut direncanakan bakal berjalan secara bertahap mulai dari 5% pada 2025.

“Kita mulai dari 2025 dengan 5% bertahap, 2029 10% dan 2030 10% pencampuran [dengan JBU],” ujar Edi dalam konferensi pers di kantor Kementerian ESDM, awal September tahun lalu.

Edi memastikan rencana tersebut juga sesuai dengan peta jalan atau roadmap yang tertuang dalam Peraturan Presiden Nomor 40 Tahun 2023 tentang Percepatan Swasembada Gula Nasional dan Penyediaan Bioetanol sebagai Bahan Bakar Nabati (BBN).

Dalam beleid tersebut, Edi mengatakan, pemerintah menargetkan peningkatan produksi bioetanol yang berasal dari tanaman tebu paling sedikit sebesar 1,2 juta kl pada 2030.

(azr/naw)

No more pages