Reli harga SUN siang hari ini melanjutkan tren bullish pada Kamis–Jumat minggu lalu ketika mayoritas yield obligasi pemerintah terpangkas berkat sentimen dalam negeri yang membaik dari kepastian tentang arah fiskal ke depan, termasuk perihal kebijakan burden sharing yang sifatnya sementara.
Dalam wawancara eksklusif dengan Bloomberg Technoz, Selasa, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan kebijakan burden sharing 2.0 bersama Bank Indonesia sifatnya sementara dan tidak akan menjadi opsi pembiayaan rutin APBN ke depan.
“Saya pikir untuk masa ini aja. Kalau burden sharing yang beli di pasar primer kan sebetulnya seperti monetizing (memonetisasi) kebijakan fiskal. Itu yang diharamkan di dunia moneter dunia. Jadi saya lihat ke depan seperti apa, harusnya itu akan kita hindari,” kata Purbaya.
Reli harga SUN juga didukung oleh intervensi Bank Indonesia yang cukup intens di pasar valuta asing demi mendukung stabilitas rupiah, juga di pasar obligasi negara.
Penguatan harga SUN di penghujung pekan lalu juga dipengaruhi oleh ekspektasi akan peluang penurunan bunga acuan AS di sisa tahun 2025, pasca terbitnya laporan ketenagakerjaan AS.
Mengacu CME Fedwatch Tools, pasar masih menaruh harapan akan ada penurunan bunga acuan The Fed pada pertemuan OKtober nanti. Sedang pada FOMC Desember nanti, mayoritas pasar kembali memprediksi Gubernur Jerome Powell dan kolega akan memangkas lagi Fed Fund Rate menjadi level 3,5–3,75% dari posisi bunga saat ini 4–4,25%.
Dengan itu, pasar saat ini menilai Federal Reserve akan kembali menurunkan bunga acuan sebanyak dua kali di penghujung tahun ini yang masing–masing 25 bps.
Tutup dagang hari ini, pasar keuangan Indonesia masih didominasi zona hijau. Selain harga SUN yang melanjutkan kenaikan, di pasar saham, reli juga berlanjut. IHSG yang mencatat kenaikan 0,23% minggu lalu, siang hari ini masih melaju di zona hijau dengan keberhasilan menguat 0,27% point–to–point.
Kenaikan IHSG ditopang oleh saham–saham Prajogo Pangestu seperti saham BREN, BRPT, CDIA, dan CUAN, selain ditopang juga oleh saham MLPT.
Sementara saham–saham perbankan seperti saham BBRI, BMRI, BBCA, dan BBNI masih menjadi pemberat indeks hari ini.
Pergerakan saham dan surat utang di pasar keuangan Indonesia berlangsung di tengah kelesuan yang dialami oleh rupiah. Rupiah yang dibuka melemah sejak pembukaan pasar pagi tadi, menyentuh Rp16.623/US$, menjadi ditutup melemah 0,08% di posisi Rp16.554/US$.
(fad/aji)



























