“Ada, bisa ada, tapi kita longgarin,” ujarnya.
Dia menuturkan impor sapi bisa dilakukan dengan mengajukan jumlah dan mengirimkan surat kepada kementerian teknis. Sementara untuk jumlah yang dilonggarkan, mantan Menteri Perdagangan tersebut tidak menyebut angka secara pasti.
“Silakan saja, berapa saja yang diperlukan, mau 100.000, mau 200.000. Kalau memang ada yang mau penggemukan, mau sapi untuk perah susu, mau untuk breeding silakan,” tuturnya.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi menambahkan, keputusan impor sapi hidup ini agar terjadi perputaran ekonomi di Indonesia.
"Pak Menko [Pangan] itu arahannya Presiden ingin mengembangkan sapinya itu sapi hidup. Jadi bukan daging langsung yang diimpor, tetapi sapi hidupnya. Soalnya kalau nggak, nanti enggak berkembang [ekonomi nasional]. Karena ekonomi kita itu berkembang dari ada yang ngarit, ngasih hijauan, ngasih pakan," kata Arief saat ditemui seusai rapat koordinasi terbatas (rakortas).
Menurut Arief, hingga akhir tahun ini setidaknya akan ada sekitar 300.000 ekor sapi baik perah maupun bakalan yang akan diimpor dari berbagai negara. Meski demikian, dia menyebut data pasti akan keluar sesuai hasil risalah rakortas.
"Pokoknya adalah kita rakortas ini untuk mengembangkan peternakan dalam negeri," ucap Arief.
Dari impor sapi hidup ini, Arief membeberkan ke depannya Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan ikut mengelola sapi impor tersebut. Sehingga masing-masing Kopdes diharapkan mampu memperoleh keuntungan dari hasil merawat sapi pedaging dan sapi perah impor.
"Tadi ada masukan juga nanti Kopdes-Kopdes segala itu nanti setiap desa itu juga harusnya sapi hidup. Misalnya beli nanti Rp3 juta, terus nanti di dalam 3 sampai 5 bulan jadi Rp15 juta, Rp20 juta. Kan nanti petaninya bisa dapat gain, dapat keuntungan dari situ," jelas Arief.
Sejalan dengan pembebasan impor sapi hidup ini, Arief mengungkap nantinya pemerintah juga akan mengurangi impor daging sapi. Namun, jumlah pasti pengurangan impor daging sapi ini masih akan dibahas lebih lanjut.
Sebelumnya, Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Sudaryono mengungkapkan sebanyak 40.500 ekor sapi telah diimpor dari target 150.000 ekor sapi perah dan sapi pedaging.
Hal itu dilakukan untuk menggenjot produksi susu dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan program MBG yang digagas oleh Presiden Prabowo Subianto.
“Kita punya target memang besar, 150.000 ekor sapi perah dan sapi pedaging investasi di Indonesia. Sampai dengan kita ada di sini, kami laporkan sudah ada investasi masuk 11.500 sapi perah untuk kebutuhan susu dan 29.000 ekor investasi sapi pedaging untuk daging sapi potong,” kata Sudaryono dalam rapat bersama Komisi IV DPR, Selasa (16/9/2025).
Dia menjelaskan pemerintah tidak ingin menggunakan APBN dalam memenuhi kebutuhan sapi pedaging dan sapi perah tersebut. Untuk itu, pemerintah tengah berupaya mendatangkan sejumlah investor ke RI.
“Kenapa investasi ini dipandang menarik bagi investor, baik dalam maupun luar negeri? Jadi karena ada emerging market yang namanya MBG, salah satu menu dari MBG itu adalah susu,” tuturnya.
(ell)




























