Logo Bloomberg Technoz

Ia menegaskan temuan ini membuka ruang penting dalam program kesehatan reproduksi global. Menurut laporan tersebut, pengguna kontrasepsi kerap melaporkan berbagai efek samping pada kehidupan seksual, mulai dari penurunan gairah, rasa tidak nyaman saat berhubungan, hingga kekhawatiran atas pengalaman seksual pasangan. 

Fenomena ini ditemukan baik pada metode hormonal maupun non-hormonal, tanpa perbedaan signifikan di antara keduanya.

Meski cukup sering terjadi, efek samping seksual jarang dibahas, baik dalam penelitian klinis maupun layanan konseling kontrasepsi. Karena itu, studi ini merekomendasikan normalisasi pembicaraan tentang seks dalam sesi konseling, pelatihan tenaga kesehatan untuk mengenali dampak seksual, hingga integrasi kesejahteraan seksual dalam panduan keluarga berencana.

Penelitian ini juga menyoroti manfaat yang lebih luas jika kebutuhan kontrasepsi global terpenuhi. WHO memperkirakan angka kematian ibu dapat ditekan hingga 35%, sementara jumlah kehamilan tidak diinginkan bisa turun dari 80 juta menjadi 26 juta per tahun. Selain itu, penggunaan kontrasepsi penghalang seperti kondom juga terbukti mencegah penyebaran HIV, gonore, sifilis, dan klamidia.

Namun, di banyak negara, akses terhadap kontrasepsi modern masih menghadapi tantangan besar. Angka penghentian penggunaan metode kontrasepsi cukup tinggi, dengan rata-rata 40% perempuan berhenti, bahkan mencapai lebih dari 50% di beberapa wilayah. Kondisi ini semakin menghambat upaya peningkatan kesehatan reproduksi global.

“Memastikan kontrasepsi mendukung kehidupan seks yang memuaskan dan aman sangat penting untuk kesehatan seksual dan kesejahteraan menyeluruh,” kata Dr. Lianne Gonsalves, Ilmuwan Kesehatan Seksual WHO sekaligus penulis utama laporan tersebut. Ia menilai temuan ini merefleksikan pengalaman nyata banyak pengguna kontrasepsi di berbagai belahan dunia.

(dec/spt)

No more pages