Masih juga terdapat saham–saham yang menguat dan menjadi top gainers di antaranya saham PT Indo Oil Perkasa Tbk (OILS) yang melesat 34,7%, saham PT Eratex Djaja Tbk (ERTX) terbang 34,6%, dan saham PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO) melejit 34,1%.
Kemudian saham yang melemah dalam dan menjadi top losers di antaranya saham PT Cipta Selera Murni Tbk (CSMI) yang ambles 14,7%, saham PT Prasidha Aneka Niaga Tbk (PSDN) yang jatuh 14,6%, dan saham PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK) yang drop 14,4%.
Bursa Saham Asia lainnya justru menguat. i.a. Weighted Index (Taiwan), Hang Seng (Hong Kong), Straits Time (Singapura), Shanghai Composite (China), CSI 300 (China), Shenzhen Comp. (China), TOPIX (Jepang), dan KLCI (Malaysia) yang berhasil menguat dengan laju masing-masing 0,94%, 0,87%, 0,71%, 0,52%, 0,45%, 0,44%, 0,10%, dan 0,06%.
Di sisi berseberangan, SETI (Thailand), NIKKEI 225 (Tokyo), KOSPI (Korea Selatan), dan SENSEX (India) yang tertekan masing–masing 1,08%, 0,25%, 0,19%, dan 0,13%. Jadi, IHSG adalah Bursa Saham dengan pelemahan terdalam kedua di Asia, bersanding dengan Bursa Saham Thailand.
Sentimen yang buat lesu IHSG sepanjang hari ini datang dari Asian Development Bank (ADB) yang memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mendatang, menjadi sebesar 5%, berdasarkan laporan Asian Development Outlook (ADO) September 2025.
Dalam laporan ADO sebelumnya atau pada rilisan Juli, ADB masih memprediksi ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh mencapai 5,1%.
Pemangkasan proyeksi tersebut tak lain disebabkan oleh timbulnya lingkungan perdagangan global baru terimbas pengenaan tarif dan perubahan kesepakatan dagang.
Ini juga membuat ADB memangkas proyeksi regional negara berkembang Asia dan Pasifik menjadi 4,8% tahun ini, dan 4,5% pada tahun depan, dibanding dengan proyeksi sebelumnya yang masing–masing masih mencapai 4,9% dan 4,7%.
“Tarif Amerika Serikat berada pada tingkat yang tinggi secara historis dan ketidakpastian perdagangan global masih sangat tinggi,” papar Kepala Ekonom ADB Albert Park melalui rilis resminya, Selasa.
Di samping fundamental ekonomi, melemahnya IHSG yang begitu dalam merupakan efek secara langsung dari turunnya sejumlah saham Big Caps.
Saham penyebab IHSG melemah dikutip dari data Bloomberg, Selasa 30 September 2025
- Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menekan 13,21 poin
- Barito Renewables Energy (BREN) menekan 11,4 poin
- Bank Central Asia (BBCA) menekan 10,73 poin
- GoTo Gojek Tokopedia (GOTO) menekan 4,29 poin
- Indofood Sukses Makmur (INDF) menekan 3,6 poin
- Sinar Mas Multiartha (SMMA) menekan 3,59 poin
- Aneka Tambang (ANTM) menekan 2,86 poin
- Merdeka Copper Gold (MDKA) menekan 2,5 poin
- Bank Negara Indonesia (BBNI) menekan 2,49 poin
- Telkom Indonesia (TLKM) menekan 2,28 poin
Adapun saham–saham perindustrian lain juga jadi pendorong pelemahan IHSG, saham PT Impack Pratama Industri Tbk (IMPC) drop 4,76%, saham PT Shield on Service Tbk (SOSS) ambles 3,87% dan saham PT Hoffmen Cleanindo Tbk (KING) juga terjebak di zona merah dengan ambles 3,74%.
Disusul oleh pelemahan saham keuangan atau saham finance, saham PT IndoKripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang terjun bebas 4,58%, saham PT Indoritel Tbk (DNET) ambles 4,26%, dan saham PT Bank Mayapada Tbk (MAYA) yang melemah 4,14%.
(fad/wep)
























