Direktur & Corporate Secretary GGRM, Heru Budiman secara terang-terangan mengatakan bahwa profitabilitas perusahaan masih rapuh.
“Kenaikan cukai yang sudah terjadi belum seluruhnya atau belum dapat terkompensasi oleh kenaikan harga yang proporsional,” ujarnya dalam Public Expose GGRM beberapa waktu lalu.
Heru juga menekankan bahwa meskipun tidak ada kenaikan cukai pada 2025, kinerja belum otomatis membaik karena kenaikan di periode sebelumnya masih membebani.
Laporan keuangan GGRM juga menunjukkan tekanan pada beban produksi. Pos pita cukai, PPN, dan pajak rokok dalam beban pokok pendapatan mencapai Rp32,89 triliun per 30 Juni 2025, turun dari Rp38,17 triliun pada periode sama 2024.
Tim riset Maybank menyoroti kinerja PT Gudang Garam Tbk. (GGRM) yang anjlok pada semester I-2025. Emiten rokok ini hanya membukukan laba bersih Rp117 miliar, anjlok 87% secara tahunan (yoy) dan baru memenuhi 12% dari estimasi konsensus. Pendapatan juga merosot 11% yoy menjadi Rp44,4 triliun. Margin laba kotor turun menjadi 8,5%, sementara margin laba usaha hanya 1,2%.
Kinerja GGRM yang lesu dan tren campuran kinerja HMSP ini mencerminkan tekanan industri yang lebih luas.
Maybank Sekuritas melihat bahwa ruang perbaikan kinerja emiten rokok masih terbatas di tengah regulasi yang semakin ketat, pergeseran konsumsi ke segmen harga lebih rendah, lesunya daya beli, meningkatnya kesadaran kesehatan, dan arah kebijakan pemerintah untuk menekan konsumsi rokok akan terus menjadi faktor penekan
(dhf)


























