Menurut pejabat Amerika Serikat (AS) dan Korea Selatan (Korsel), Korut telah memasok puluhan ribu tentara, peluru artileri, dan rudal ke Rusia untuk perang di Ukraina. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa militer Pyongyang memperoleh pengalaman tempur nyata dari konflik tersebut.
KCNA melaporkan Kim menyerukan fokus pada “pengembangan cepat teknologi kecerdasan buatan yang baru diperkenalkan” sekaligus “memperluas dan memperkuat kapasitas produksi massal drone.”
Korsel sendiri mendapat peringatan serius terkait ancaman drone pada 2022, ketika Pyongyang mengirim lima UAV melintasi perbatasan—salah satunya terbang dekat kantor Presiden Yoon Suk Yeol di Seoul. Militer Korsel gagal menembak jatuh perangkat itu, sebagian karena kekhawatiran menembakkan amunisi di wilayah padat penduduk.
Pada November lalu, Kim menyerukan produksi massal drone serang setelah Pyongyang menuduh Seoul menerbangkan pesawat nirawak di atas ibu kota Korut. Namun, pihak Korsel belum mengonfirmasi tuduhan tersebut.
(bbn)






























