Secara teknikal dengan perspektif harian (daily time frame), rupiah akan menguji support Rp 16.500-16.550/US$. Penembusan di level ini bisa menyebabkan rupiah melemah ke arah Rp 16.580/US$.
Target paling pesimistis atau support terjauh adalah Rp 16.600/US$.
Sementara itu, trendline sebelumnya menjadi resisten psikologis potensial di Rp 16.450/US$. Kemudian target penguatan lanjutan ada di Rp 16.400/US$.
Dolar Terlalu Kuat
Apa boleh buat, dolar AS memang terlalu kuat. Kemarin, Dollar Index (yang mengukur posisi greenback di hadapan enam mata uang utama dunia) menguat 0,5% ke 97,355.
Penguatan dolar AS terjadi akibat respons investor terhadap hasil rapat bank sentral Federal Reserve kemarin. Gubernur Jerome ‘Jay’ Powell dalam konferensi pers usai rapat mengeluarkan pernyataan yang dinilai kurang dovish.
Powell menyebut pihaknya akan terus memantau perkembangan inflasi, yang berisiko naik akibat kebijakan tarif. Oleh karena itu, The Fed akan memonitor situasi dari rapat ke rapat untuk menentukan arah kebijakan moneter.
Perkembangan ini membuat investor sedikit kurang yakin mengenai seberapa agresif The Fed bakal memangkas suku bunga acuan. Kegalauan investor kemudian dituangkan dengan membeli dolar AS.
“Dolar mengalami tekanan jual persis setelah pengumuman hasil rapat The Fed. Namun kemudian dolar diborong lagi karena ada ekspektasi The Fed hanya akan menurunkan suku bunga acuan sekali tahun depan. Ini dipandang sebagai posisi (stance) yang cukup hawkish,” papar Takeru Yamamoto, Trader di Sumitomo Mitsui Trust Bank Ltd, seperti dikutip dari Bloomberg News.
Rupiah dipandang sebagai mata uang paling sensitif. Sebab, Bank Indonesia (BI) baru saja kembali menurunkan suku bunga acuan pekan ini.
“Penguatan dolar AS terjadi secara luas, sulit membayangkan mata uang Asia bisa lolos. Beberapa mata uang dengan beta tinggi seperti won Korea Selatan atau rupiah mungkin menjadi yang paling sensitif. Dengan kebijakan terbaru di Indonesia, rupiah bisa jadi menjadi yang paling terdampak,” tegas Brendan McKenna, Emerging Markets Strategist di Welll Fargo Securities LLC, juga diberitakan Bloomberg News.
(aji)





























