Meski likuiditas meningkat, inflasi diperkirakan tetap terjaga di kisaran target Bank Indonesia sebesar 2,5% ±1%. Proyeksi inflasi 2025–2026 berada di 2,7–3,3%, dengan catatan pemerintah berhasil menjaga stabilitas harga pangan.
Tantangan lain datang dari sisi permintaan kredit yang belum sepenuhnya pulih. Survei BI menunjukkan proyeksi perlambatan kredit di paruh kedua 2025, seiring meningkatnya pembiayaan perusahaan melalui penerbitan obligasi yang sepanjang Januari–Juli 2025 tumbuh 62%
BNI melihat program ini menjadi momentum untuk mempersempit kesenjangan antara pertumbuhan aktual dan potensial Indonesia yang selama ini negatif.
“Penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun akan menciptakan efek pengganda likuiditas. Jika tersalurkan ke sektor riil, pertumbuhan kredit bisa menembus 15% pada 2026 dan mendorong ekonomi kembali ke jalur potensialnya,” ujar BNI dalam laporannya.
Secara keseluruhan, kebijakan penempatan dana pemerintah ini dinilai mampu memberikan dorongan signifikan bagi pertumbuhan ekonomi, menjaga stabilitas inflasi, serta memberi ruang bagi penurunan suku bunga.
Namun, realisasi dampaknya sangat bergantung pada efektivitas penyaluran kredit ke sektor-sektor produktif dan pemulihan permintaan domestik.
(red)






























