Logo Bloomberg Technoz

Dia menjelaskan perusahaan besar dengan modal dan teknologi lebih maju dapat membeli gabah hingga Rp8.000/kg, namun hal itu berisiko mendorong harga beras melampaui HET.

“Misalnya ada yang beli GKP Rp7.000, Rp7.200,Rp8.000, maka HET-nya nggak akan tercapai gitu loh. Nah yang beli Rp8.000.000 biasanya produsen yang gede. Kenapa yang gede bisa beli segitu? Karena efisien, pabriknya efisien, kerjanya ini mesinnya bagus, modalnya gede gitu. Nah itu yang enggak boleh,” ucapnya

Sebelumnya, Perum Bulog menyatakan tetap melakukan penyerapan gabah maupun beras berdasarkan skema komersial yakni menyesuaikan dinamika dan kebutuhan pasar. 

Direktur Pengadaan Perum Bulog Prihasto Setyanto mengatakan Bulog tetap melaksanakan penyerapan gabah dan beras sesuai penugasan pemerintah. 

“Perum Bulog menyatakan bahwa isu tersebut tidak benar,” kata Prihasto dalam siaran pers.

Pada tahun ini, berdasarkan Inpres nomor 6 tahun 2025, Bulog mendapat tugas mengadakan Cadangan Beras Pemerintah (CBP) sebanyak 3 juta ton setara beras, dan target tersebut telah tercapai.

Dia menegaskan CBP Bulog bekerja berdasarkan regulasi dan penugasan yang diberikan pemerintah. Namun di luar itu, Bulog tetap melakukan penyerapan gabah dan beras melalui skema komersial. 

Dalam skema ini, Bulog tidak pernah menghentikan penyerapan karena mekanismenya disesuaikan dengan kebutuhan penjualan, baik dari sisi jenis, kualitas, maupun kuantumnya. 

Prihasto juga menjelaskan bahwa Bulog juga mengoperasikan Sentra Penggilingan Padi (SPP) di 10 wilayah yang terus menyerap gabah sesuai standar kualitas untuk menghasilkan beras premium maupun beras sesuai preferensi konsumen dan kebutuhan pasar.

Dengan demikian, menurutnya, Bulog masih melakukan penyerapan gabah maupun beras. Perbedaannya hanya terletak pada skema yakni CBP mengikuti regulasi pemerintah, sedangkan komersial menyesuaikan dinamika dan kebutuhan pasar. 

“Hal ini memastikan Bulog tetap berpihak pada petani sekaligus menjaga keseimbangan ketersediaan dan harga beras bagi masyarakat,” tegas Prihasto.

Dia menambahkan, Bulog sebagai operator berkomitmen untuk menjalankan penugasan dari pemerintah, dengan melindungi harga ditingkat petani, maupun menjaga ketersediaan, keterjangkauan, dan stabilisasi harga pangan di tingkat konsumen.

Sebelumnya, dikabarkan Bulog telah menghentikan pembelian gabah petani. Kabar tersebut memicu kegelisahan terutama di kalangan petani yang masih memiliki stok gabah dan berharap Bulog menyerapnya.

(ell)

No more pages