Logo Bloomberg Technoz

Reaksi pasar terhadap data ini terbilang datar. Imbal hasil obligasi pemerintah China tenor 30 tahun nyaris tidak berubah di kisaran 2,2%, sementara yuan stabil terhadap dolar AS.

China kini memasuki tahun ketiga berturut-turut mengalami deflasi, sebuah kondisi yang belum pernah terjadi sejak negara itu mulai beralih dari ekonomi terpusat pada akhir 1970-an. Penurunan harga selama sembilan kuartal berturut-turut mencerminkan ketidakseimbangan antara pasokan dan permintaan, yang menekan neraca keuangan perusahaan serta menurunkan pendapatan rumah tangga maupun pemerintah.

Menurut Dong Lijuan, kepala statistik NBS, penurunan IHK Agustus terutama disebabkan turunnya harga pangan serta efek perbandingan basis tinggi dari tahun lalu.

Harga pangan anjlok 4,3% secara tahunan, dengan harga sayuran segar merosot lebih dari 15% — penurunan terdalam sejak November 2022.

Namun, inflasi inti (core CPI) — yang mengecualikan harga pangan dan energi — justru naik ke level tertinggi dalam 18 bulan terakhir, yakni 0,9%. Dong menilai kenaikan ini menunjukkan kebijakan pemerintah untuk mendorong permintaan dan konsumsi mulai berdampak.

“Penurunan harga pabrik yang lebih kecil pada Agustus merupakan tanda awal bahwa janji pemerintah untuk mengurangi persaingan tidak sehat mulai meredakan tekanan deflasi di sektor hulu dan tengah. Namun, kenaikan ini lebih dipicu ekspektasi pasar daripada aksi nyata kebijakan — dan hanya akan bertahan jika Beijing benar-benar meluncurkan langkah konkret untuk meredam perang harga,” kata Eric Zhu dari Bloomberg Economics.

Penurunan IHK Agustus “sepenuhnya disebabkan harga pangan,” ujar Michelle Lam, ekonom Greater China di Societe Generale SA.

“Prospek IHK masih rapuh mengingat harga rumah terus melemah dan dampak subsidi pemerintah kian berkurang,” tambahnya. “Kenaikan inflasi inti juga lebih lemah dari perkiraan kami.”

Apakah harga konsumen dan produsen akan terus rebound menjadi pertanyaan besar dengan implikasi mendalam bagi pasar saham hingga obligasi.

Permintaan domestik yang rapuh tetap menjadi hambatan bagi upaya pemerintah membalikkan deflasi. Meski ada tanda-tanda awal pengurangan produksi di sejumlah komoditas seperti batu bara, baja, dan tembaga, belum jelas apakah tren ini dapat berkelanjutan dan mendorong pemulihan harga jangka panjang.

Sebuah tambang litium di China yang sempat menghentikan produksi bulan lalu — dan memicu lonjakan harga logam baterai — kini dikabarkan akan kembali beroperasi lebih cepat dari perkiraan, menurut sumber Bloomberg. Hal ini menegaskan ketidakpastian di sekitar dorongan kebijakan pemerintah.

Sementara itu, ekonomi China mulai melambat secara menyeluruh pada musim panas ini dan kehilangan lebih banyak momentum pada paruh akhir Agustus, menurut Bloomberg Economics. Pertumbuhan ekspor juga melemah ke titik terendah dalam enam bulan, diperburuk oleh penurunan pengiriman ke Amerika Serikat.

Meski begitu, data inflasi Agustus memberi sinyal awal bahwa tekanan deflasi mulai berkurang.

Industri pertambangan dan pencucian batu bara mencatat kenaikan harga 2,8% dibanding bulan sebelumnya — lonjakan pertama sejak Oktober. Sektor logam ferrous, termasuk produsen besi dan baja, juga mencatat kenaikan 2,1%.

Di tengah tanda-tanda memudarnya efek subsidi pemerintah terhadap konsumsi, harga barang tahan lama seperti peralatan rumah tangga justru melonjak 4,6% secara tahunan — kenaikan terbesar sejak pencatatan dimulai pada 2001. Sementara itu, kategori barang dan jasa yang mencakup perhiasan emas melonjak 8,6%.

“Jika melihat kenaikan inflasi inti dan non-pangan, ada tanda-tanda bahwa deflasi mulai mereda,” ujar Serena Zhou, ekonom senior China di Mizuho Securities Asia Ltd.

(bbn)

No more pages