Logo Bloomberg Technoz

Di sisi lain, Andi menyebut kejadian tersebut membuat petambak terpaksa menjual udang dengan harga murah ke pasar lokal. Akan tetapi, pasar lokal ikut terpengaruh isu radioaktif yang menyebabkan konsumen enggan membeli udang tersebut. 

“Nah, masyarakat di sana juga rupanya baca berita bahwa ada radioaktif sehingga mereka enggak mau makan,” ujarnya. 

Bagaimanapun, Andi menyebut jika petambak kecil sedang menanggung dampak terberat isu paparan radioaktif tersebut. Dia berharap pemerintah dapat meyakinkan konsumen bahwa udang Indonesia aman.

“Penyelesaian cepat adalah kunci menjaga kepercayaan pasar domestik maupun internasional,” tuturnya. 

Ekspor Tak terdampak 

Ditemui terpisah, Menteri Perdagangan Budi Santoso mengeklaim ekspor udang ke Amerika Serikat (AS) tak terdampak di tengah isu temuan udang yang terpapar zat radioaktif cesium 137 (Cs-137) di kawasan industri Cikande, Banten.

“Enggak ada masalah kan [ekspor] ini yang kena kan yang beberapa, empat kontainer kan [terpapar]. yang lainnya kan enggak ada masalah,” kata Budi ditemui di kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Senin (8/9/2025). 

Budi mengungkapkan empat kontainer udang yang terpapar Cs 137 tersebut telah dikembalikan. Selanjutnya pemerintah bakal memitigasi agar kasus tersebut tidak terjadi ke depannya. 

“Ya justru kita itu bagaimana bisa mitigasi ke depan tidak ada kasus itu lagi. [ekspor] ke Amerika enggak ada masalah sepanjang memang enggak mengandung [Cs-137],” ujarnya. 

Belakangan, isu udang RI tak layak konsumsi ramai diperbincangkan seusai Badan Administrasi Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) meminta masyarakat AS untuk tidak mengonsumsi salah satu merek udang yang dijual di Walmart karena terkontaminasi bahan-bahan radioaktif.

FDA meminta Walmart untuk menarik tiga lot udang mentah beku asal Indonesia setelah pejabat FDA  menemukan adanya kandungan radioaktif Cesium-137 pada salah satu pengiriman yang tidak masuk ke AS, menurut pernyataan resmi pada Selasa (20/8/2025).

Isotop tersebut dapat meningkatkan risiko kanker bila terjadi paparan berulang dalam dosis rendah, meskipun kadar yang terdeteksi tidak cukup tinggi untuk menimbulkan risiko akut, jelas FDA.

(ell)

No more pages