"Kami siap meningkatkan tekanan pada Rusia, tetapi kami membutuhkan mitra kami di Eropa untuk ikut serta," ujar Menteri Keuangan Scott Bessent dalam wawancara di NBC’s Meet the Press pada Minggu (7/9/2025) waktu setempat.
AS dan Eropa sedang membahas sanksi baru dan tarif sekunder bagi Rusia. Mereka berharap keruntuhan ekonomi Rusia akan memaksa Putin melakukan perundingan damai dengan Ukraina.
Presiden AS Donald Trump sejauh ini menahan diri, tidak menjatuhkan sanksi langsung pada Rusia, meski tenggat yang dia tetapkan sendiri telah lewat dan Putin bersikeras menolak bernegosiasi untuk mengakhiri perang. Namun, Trump telah menggandakan tarif India menjadi 50% karena terus membeli minyak Rusia.
Moskwa sudah disanksi AS dan Eropa, tetapi masih mampu menghindari sebagian dampaknya dengan mengimpor barang-barang yang dibatasi dari China dan negara ketiga lainnya, serta mendapat pelanggan minyak dan gasnya di India dan negara-negara lain.
Bloomberg sebelumnya melaporkan bahwa selain mengenakan pungutan tambahan pada pembeli minyak Rusia, AS mempertimbangkan sanksi terhadap armada tanker minyak rahasia Moskwa dan perusahaan energi Rosneft PJSC dan Lukoil PJSC di antara sejumlah opsi potensial.
Paket pembatasan terbaru Uni Eropa akan membuat blok tersebut memperluas sanksinya terhadap tanker-tanker bayangan (shadow fleet) Rusia, pedagang minyak di negara ketiga, dan memberlakukan larangan reasuransi terhadap kapal tanker yang terdaftar.
Uni Eropa juga mempertimbangkan sanksi lebih ketat terhadap perusahaan-perusahaan besar minyak Rusia dengan mencabut pengecualian yang saat ini dinikmati beberapa perusahaan seperti Rosneft.
Blok tersebut juga mempertimbangkan larangan ekspor terhadap barang dan bahan kimia yang digunakan oleh industri militer Rusia, serta pembatasan perdagangan terhadap perusahaan-perusahaan asing, termasuk di China, yang memasok barang-barang tersebut.
Beijing secara khusus telah menjadi pemasok utama bagi militer Rusia, terutama dalam memfasilitasi Moskwa untuk meningkatkan produksi drone yang digunakan untuk menyerang kota-kota di Ukraina.
Terpisah, kata para sumber, Uni Eropa mempertimbangkan kemungkinan untuk kali pertama menggunakan "alat anti-pengelakan" terhadap Kazakhstan. Ini akan melarang negara tersebut mengimpor seperangkat mesin tertentu, yang menurut data perdagangan Uni Eropa, masih dialihkan ke Rusia dalam jumlah besar untuk digunakan dalam produksi senjata.
Mereka memperingatkan bahwa penggunaan alat tersebut memerlukan bukti yang komprehensif dan, seperti semua sanksi Uni Eropa lainnya, membutuhkan dukungan dari negara-negara anggota.
Paket sanksi yang diusulkan ini bisa berubah karena ibu kota negara-negara anggota blok tersebut akan mendiskusikannya dalam beberapa hari dan pekan ke depan.
Langkah-langkah lain yang sedang dipertimbangkan, termasuk pembatasan visa, pembatasan pelabuhan yang menangani kapal-kapal bayangan yang terkena sanksi, dan sanksi terhadap layanan seperti kecerdasan buatan yang memiliki implikasi militer.
Akhir pekan lalu, para duta besar Uni Eropa telah diberi arahan tentang paket yang diusulkan tersebut dan diperkirakan akan diajukan secara resmi dalam beberapa hari mendatang.
(bbn)































