Di antaranya dari Fakultas Seni Rupa dan Desain atau FSRD ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ITB, dan IKJ, serta lima pelukis independen, termasuk SBY.
Terdapat sekitar 30 lukisan yang dibuat masing-masing individu yang mengangkat berbagai aneka tema reflektif dalam bingkai besar.
"Hal ini sebuah simbol bahwa seni merupakan kerja kolektif lintas ranah," ujarnya.
Di sisi lain, Menteri Ekonomi, Teuku Riefky Harsya mengatakan bahwa pameran ini juga merupakan ikhtiar penguatan dari berbabagai lukisan dengan sentuhan inovasi dan kreativitas.
"Dan hal ini juga sangat penting dalam penguatan ekosistem ekonomi kreatif di Indonesia," urainya.
Selain itu, Rizky Ahmad Zaelani selaku kurator menjelaskan ada beberapa lukisan di dalam pameran yang bertemakan tentang alam.
"Kita melihat alam dan tidak kita sadari, sebenarnya alam juga menyaksikan kita, betapa kita berbeda dengan alam, di mana manusia memiliki kelebihan untuk memahami seperti apa alam yang seharusnya,"urainya.
Lukisan kolaborasi SBY bersama 21 orang seniman terinspirasi dari lagu Save Our World ciptaan SBY. Di salah satu bagian ada potret gunung dan persawahan yang hijau.
Kemudian juga terlihat ada bagian gedung terbakar dengan batang pohon yang sudah patah. Di depannya ada ranting pohon yang mengering di atas perahu kuning. Seorang perempuan yang ada di atas kuda melihat pemandangan memilukan tersebut.
Pemandangan di seberangnya terlihat kontras dengan pemandangan air terjun, pohon hijau, rusa, kolam ikan, bebatuan, hujan yang hijau serta indah. Di antaranya ada tipografi bertuliskan 'Destruction Ruins. Peace Paints' yang ditulis oleh Naufal Abshar.
Diinformasikan pameran seni SBY Art Community membuka operasional setiap hari, dimulai dari pukul 10.00 WIB - 21.00 WIB malam.
Di akhir pekan akan diadakan kegiatan Art Talk, Artist Talk, dan workshop, di mana para seniman dari institusi maupun independen akan berbagi cerita, pengetahuan, dan keterampilan dalam proses kreatif mereka.
(dec/spt)






























