Mantapnya sentimen tersebut berhasil mendorong mata uang Asia lainnya di zona hijau pasca pengumuman data yang dinilai positif, data pembukaan lapangan kerja di Amerika Serikat, JOLTS Opening, mencatat angka lebih rendah ketimbang prediksi pasar sebelumnya. Hal itu memperkuat probabilitas penurunan bunga acuan The Fed pada sisa tahun ini.
Mengutip CME FedWatch Tools, probabilitas Bank Sentral Federal Reserve memangkas suku bunga acuan sebanyak 25 basis poin (bps) ke 4,00–4,25% dalam rapat September melejit ke angka keyakinan 97,6% lebih tinggi dari sebelumnya yang terbilang 88,7%.
Mata uang peso Filipina berhasil terapresiasi 0,44% hingga memimpin penguatan nilai tukar Asia, menyusul dolar Taiwan dengan menguat 0,07%, baht Thailand 0,04%, yuan China 0,03%, dan dolar Hong Kong menguat 0,02%.
Tidak hanya rupiah, mata uang utama Asia juga masih terjebak di zona merah. Won Korea Selatan menjadi mata uang terlemah dengan pelemahan mencapai 0,36%. Disusul oleh yen Jepang (-0,16%), dolar Singapura (-0,12%), rupee India (-0,09%), dan ringgit Malaysia (-0,05%) dengan rupiah yang melemah tipis 0,03%.
Di samping itu, pelemahan rupiah rasa–rasanya masih terbebani oleh sentimen rencana 'Burden Sharing' pembelian Surat Berharga Negara (SBN) oleh Bank Indonesia demi menunjang program belanja pemerintah Presiden Indonesia Prabowo Subianto.
Di pasar saham, tekanan jual juga membesar menjegal reli yang sudah berlangsung dua hari berturut–turut usai keberhasilan rebound signifikannya. IHSG tergerus 0,23% pada penutupan perdagangan di level 7.867, dengan rentang perdagangan terjadi di antara 7.899 sampai dengan 7.855.
Sementara itu, di pasar surat utang negara, pergerakan yield masih cenderung datar dengan kenaikan dan penurunan terbatas. Beberapa tenor pendek dan panjang masih mencatat penurunan yield.
Seperti dilihat dari data real time OTC Bloomberg, yield SUN 1 tahun turun 4,6 basis poin di level 5,277%, bersama tenor 5 tahun yang juga turun imbal hasilnya 2,4 bps di level 5,741%.
Adapun tenor 2 tahun, 4 tahun, dan 10 tahun mencatat kenaikan masing–masing mencapai 0,7 bps dan 0,5 bps. 0,1 bps, dan 0,1 bps. Tenor lebih panjang, 20 tahun dan 30 tahun juga terangkat 0,2 bps, dan 0,2 bps, mencerminkan tekanan harga masih berlanjut.
Nilai rupiah yang masih terjerembab di zona merah dan tekanan harga di pasar SUN yang telah berlangsung sedari kemarin, memperlihatkan pasar masih diliputi ketidakpastian.
“Pergerakan ini menunjukkan reaksi negatif atas pemberitaan kebijakan Burden Sharing, tetapi investor agak berhati–hati dalam menanggapi pemberitaan tersebut. Kehati-hatian ini berlandaskan pada pengumuman yang bersifat tiba-tiba,” papar tim analis Mega Capital Sekuritas dalam catatannya, Kamis.
Lebih jauh, para anggota Komisi XI DPR RI tak mengetahui adanya Burden Sharing selain reinvestasi obligasi VR era pandemi melalui debt switching, pembelian SPN/SPNS di pasar lelang dan pembelian di pasar sekunder, lanjut Mega Capital.
Bank Indonesia dalam pernyataan terbaru pagi ini mengatakan, sinergi kebijakan moneter dan fiskal demi mendorong pertumbuhan ekonomi akan dilakukan secara berhati–hati dan sejalan dengan disiplin dan integritas pasar.
(fad)



























