Cuaca jadi salah satu alasan pelemahan harga batu bara baru–baru ini, permintaan listrik Thailand diprediksi akan melemah pada tahun ini, sehingga mengurangi kebutuhan untuk mengimpor gas alam cair (LNG). Cuaca yang lebih sejuk akibat curah hujan tinggi serta pertumbuhan ekonomi jadi faktor utama penurunan tersebut.
Otoritas Pembangkit Listrik Thailand (EGAT) mengestimasikan impor listrik dari tenaga air dan batu bara asal Laos akan menurun sepanjang tahun ini, sehingga membuka ruang lebih besar bagi pembangkitan listrik berbasis gas, seperti yang dilaporkan Bloomberg.
Curah hujan yang tinggi, tidak biasa dari hari–hari sebelumnya, diprediksi membuat suhu lebih sejuk dari normal sebelumnya dan menekan permintaan listrik secara keseluruhan.
Lalu bagaimana prediksi harga batu bara untuk hari ini? Apakah bisa menguat lagi atau malah tertekan?
Secara teknikal dengan perspektif harian (time frame daily), batu bara masih ada di zona bearish. Terlihat dari Relative Strength Index (RSI) yang sebesar 41.
RSI yang lebih rendah 50 menandakan suatu aset sedang dalam posisi bearish.
Investor juga perlu waspada dengan indikator Stochastic RSI yang sebesar 52. Menghuni area jual (short) yang cukup kuat.
Hari ini, harga batu bara berisiko mengalami pelemahan lagi. Cermati pivot point di US$ 108/ton.
Dari pivot point tersebut, ada kemungkinan harga batu bara akan mengetes support US$ 107,5/ton. Jika tertembus, maka posisi level US$ 106/ton sepertinya menjadi target lanjutan.
Adapun target resistance paling potensial bagi harga batu bara adalah US$ 110/ton. Penembusan di titik ini bisa menyeret harga batu bara lanjut menguat dengan target paling optimistis di US$ 111,25/ton, hingga US$ 114,2/ton nantinya.
(fad/wdh)


























