Kenaikan nilai rupiah berlangsung bersamaan dengan harga obligasi negara yang mulai membaik. Tingkat imbal hasil Surat Utang tenor 10 tahun turun 5 basis poin (bps) sampai siang ini di level 6,361%. Sementara tenor 5 tahun bahkan turun 5,5 bps menjadi 5,734%.
Begitu juga dengan tenor lebih panjang 15 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun yang turun masing–masing 5,3 bps, 4,7 bps, dan 2 bps sampai siang ini, di level 6,712%, 6,858%, dan 6,876%.
Adapun pada Surat Utang dengan tenor pendek juga melandai yield-nya yaitu untuk 1 tahun, 2 tahun, dan 3 tahun yang masing–masing turun 7,9 bps, 2,9 bps, dan 2 bps berurutan menjadi 5,295%, 5,350%, dan 5,521%.
Sementara di pasar saham, IHSG yang dibuka menguat pagi tadi berhasil bertahan solid di zona hijau dengan keberhasilan menguat 0,96% pada posisi 7.810.
Semua tenor SUN bergerak turun imbal hasilnya, mengisyaratkan banyak permintaan pembelian yang menyeret harga surat utang.
Reli harga surat utang itu sejatinya berlangsung di tengah demonstrasi yang sudah mencapai puncaknya, yang membuka peluang membaiknya sentimen pasar dalam tempo segera. Pasar berpeluang pulih di sepanjang minggu ini.
Pekan ini, rasanya pasar sudah move on dari sentimen tersebut. Survei Nomura mengungkapkan bahwa 43,6% investor institusi melihat sentimen demonstrasi sudah mencapai puncak. Riset tersebut juga memperkirakan rupiah mampu menguat lebih dari 1% pekan ini.
“Dari sisi investasi, surplus neraca dagang yang berkelanjutan dan perbaikan indikator manufaktur memberi dukungan positif bagi arus portofolio. Stabilitas rupiah juga meningkatkan kepastian bagi investor asing, utamanya di obligasi pemerintah,” mengutip riset KB Valbury Sekuritas, siang hari ini Selasa.
BlackRock Borong Obligasi RI Tenor 10-15 Tahun
BlackRock Inc. menjadi penggemar obligasi pemerintah Indonesia bertenor panjang. Alasannya, obligasi berimbal hasil tinggi ini menjajakan kompensasi risiko yang memadai di tengah ketidakstabilan politik dalam negeri.
Navin Saigal, Kepala Obligasi Fixed Income Fundamental BlackRock untuk Asia Pasifik, mengatakan manajer aset terbesar di dunia itu baru–baru ini meningkatkan kepemilikan obligasi yang jatuh tempo dalam 10 hingga 15 tahun, menggeser posisi dari tenor lebih pendek.
Penambahan ini, lanjut Saigal, disebabkan oleh reaksi obligasi bertenor panjang yang lebih moderat terhadap penurunan suku bunga mendadak Bank Indonesia dan retorika dovish Federal Reserve atau The Fed bulan lalu.
“Berita utama baru-baru ini, secara inheren, tidak membuat kami mengubah posisi apa pun di Indonesia,” kata Saigal.
Terlepas dari gejolak pasar terbaru, Saigal mengatakan “imbal hasil riil” 3% pada obligasi Indonesia merupakan “margin keamanan yang layak.”
Imbal hasil obligasi pemerintah Indonesia bertenor 15 tahun naik sekitar tujuh basis poin sejak aksi jual besar–besaran dimulai pada Jumat, menghapus sebagian besar penurunan sejak pemangkasan suku bunga terbaru oleh Bank Indonesia.
“Ketegangan ini juga berpotensi menciptakan dan mempercepat perubahan struktural positif yang dapat bermanfaat bagi negara dalam jangka panjang.”
Memang pada Senin, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati berjanji akan memperbaiki kebijakan pemerintah. Sinyal ini menguatkan kepercayaan para pengamat pasar dia akan terus mengelola perekonomian. Investor memandangnya sebagai sosok yang aman dan teguh untuk menjaga disiplin fiskal.
Investor global telah menggelontorkan US$2,05 miliar ke pasar obligasi pemerintah Indonesia pada kuartal ini, menuju arus masuk terbesar sejak kuartal III-2024.
(fad/aji)



























