Logo Bloomberg Technoz

Pejabat AS dan sekutunya menuding Korut memasok puluhan ribu tentara, peluru artileri, dan rudal ke Rusia untuk perang di Ukraina. Kerja sama militer yang semakin erat antara Moskow, Beijing, dan Pyongyang menimbulkan kekhawatiran di Washington, Seoul, dan Tokyo akan munculnya blok yang bisa memperumit dinamika keamanan regional.

Di pabrik baru tersebut, Kim mengatakan negaranya berhasil memenuhi rencana lima tahun Partai Buruh yang berkuasa untuk memperluas produksi rudal guna memenuhi permintaan yang terus meningkat, memuji produksi massal berbagai rudal sebagai "prestasi strategis paling penting dan inti" dalam mengembangkan kekuatan pertahanan.

"Dengan pembentukan proses produksi modern yang mampu memenuhi kebutuhan prospektif pasukan rudal militer, kami mendapatkan jaminan yang kuat untuk secara dramatis meningkatkan kemampuan produksi rudal nasional dan kapasitas tempur unit rudal utama kami sesuai rencana," kata Kim, menurut KCNA.

Menurut laporan NK News yang berbasis di Seoul, gambar-gambar yang dirilis Korut menunjukkan pabrik tersebut berbeda dengan pabrik yang ditinjau Kim pada Februari dan sedang memproduksi rudal balistik jarak pendek dari seri Hwasong-11. 

Rudal-rudal ini, dengan jangkauan 380 hingga 800 km, dirancang untuk membawa hulu ledak nuklir dan menyerang pangkalan militer AS di Korea Selatan (Korsel). Korut telah mengirimnya ke Rusia untuk perangnya melawan Ukraina.

Pekan lalu, lembaga think tank AS mengatakan Korut diam-diam telah membangun dan mengoperasikan pangkalan rudal jarak jauh yang luas di dekat perbatasan China dan menyimpan senjata strategis tercanggihnya.

Waktu kunjungan Kim ke pabrik tersebut menggarisbawahi niatnya untuk memperlihatkan kekuatan militer sebelum bertolak ke Beijing, dan untuk memberi sinyal pada Washington dan sekutunya bahwa Korut saat ini jauh lebih tangguh daripada saat terlibat dalam pembicaraan nuklir dengan Presiden AS Donald Trump selama masa jabatan pertamanya.

Pyongyang terus menuntut pengakuan sebagai negara nuklir sebagai prasyarat untuk negosiasi apa pun, menolak tawaran perdamaian terbaru dari Presiden Korsel Lee Jae Myung, dan mencap Seoul sebagai "negara paling bermusuhan."

(bbn)

No more pages