Logo Bloomberg Technoz

Pelemahan kinerja tersebut sejalan dengan hasil lesu pesaing Rosneft. Awal pekan ini, produsen minyak terbesar kedua Rusia Lukoil PJSC dan Gazprom Neft PJSC, unit minyak dari raksasa gas Gazprom, sama-sama melaporkan penurunan laba lebih dari 50% secara tahunan pada paruh pertama.

Sementara pesaing yang lebih kecil, Tatneft PJSC, mencatat penurunan hingga 62%.

Rekapitulasi laba perusahaan minyak Rusia sepanjang semester I-2025. (Bloomberg).

Harga minyak global yang lebih rendah juga menekan laba perusahaan energi besar dunia di paruh pertama, di tengah kekhawatiran kelebihan pasokan global.

OPEC+ mengembalikan pasokan yang sebelumnya dikurangi ke pasar lebih cepat dari perkiraan, sementara kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump mengancam memperlambat pertumbuhan ekonomi global.

Belum jelas seberapa besar pelemahan laba dipicu oleh sanksi dan pembatasan Barat terhadap Rusia, yang diberlakukan sebagai respons atas perang di Ukraina untuk memutus akses Kremlin terhadap sumber pendanaan konflik.

Harga rata-rata Urals, minyak ekspor utama Rusia, berada di US$58 per barel pada paruh pertama tahun ini, turun lebih dari 13% dari tahun sebelumnya, menurut perhitungan Bloomberg berdasarkan data Argus Media.

Pada saat yang sama, rubel menguat hampir 23% ke 78,4685 per dolar AS per 30 Juni dari akhir tahun lalu, seiring suku bunga acuan Rusia bertahan di dekat level tertingginya.

Penguatan ini membuat produsen menerima lebih sedikit rubel untuk setiap barel yang dipompa dan dijual.

Bank sentral Rusia memangkas suku bunga total 300 basis poin dalam pertemuan Juni dan Juli, namun langkah itu dinilai “jelas belum cukup,” ujar Sechin.

“Konsekuensi dari mempertahankan suku bunga acuan pada level tinggi terlalu lama adalah apresiasi rubel yang berlebihan, yang merugikan anggaran negara maupun perusahaan eksportir,” kata dia.

Hal itu juga meningkatkan biaya pembayaran utang, memperburuk stabilitas keuangan korporasi, serta melemahkan potensi investasi, tambahnya.

(bbn)

No more pages