Logo Bloomberg Technoz

"Kita asumsikan dan selesai pada waktu tahun ini juga, lebih kurang tiga bulan sebagaimana dengan Eni, itu juga FEED dapat kita laksanakan selama tiga bulan," ungkapnya.

Djoko menambahkan Proyek Strategis Nasional (PSN) tersebut memiliki cadangan gas kurang lebih sekitar 18,54 triliun kaki kubik (TCF). Dia mengakui proyek ini sempat tertunda lama.

"Kita tahu bahwa secara jujur proyek ini cukup agak tertunda-tunda yang menurut bahasa Jepang disebut nanakorobi yaoki yang artinya tujuh kali jatuh, delapan kali bangkit," imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung menuturkan tahapan FEED menentukan kebutuhan desain, peralatan, dan jadwal agar proyek bisa dibangun secara efisien.

Dia mengatakan proyek ini dapat menjadi salah satu pilar ketahanan energi serta motor penggerak pembangunan nasional dan daerah. Untuk itu, pemerintah menaruh harapan besar agar proyek ini berjalan sesuai dengan jadwal.

"Saya ingin menekankan pentingnya percepatan pelaksanaan proyek ini melalui dukungan fleksibilitas dalam peraturan pengadaan serta dukungan percepatan perizinan terkait serta tepat waktu untuk berbagai fase FEED dan EPC," jelas Yuliot dalam sambutan.

Yuliot juga mengatakan percepatan proyek ini bisa ditunjang dengan penyediaan fasilitas yang dikombinasikan dari dalam negeri dan luar negeri. Selain itu, seluruh proses perizinan juga dilakukan secara terintegrasi.

Dia meminta agar seluruh perizinan dalam pelaksanaan proyek ini bisa dilaksanakan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Pada saat proyek Blok Masela mulai berjalan, seluruh perizinannya sudah bisa diselesaikan.

"Gas bumi ini diharapkan dapat berkontribusi untuk mengurangi ketergantungan impor sekaligus meningkatkan daya saing industri di dalam negeri," tuturnya.

Yuliot menyebutkan proyek raksasa dengan nilai investasi US$20.94 miliar ini ditargetkan dapat menyerap sekitar 12.611 tenaga kerja pada fase pengembangan dan sekitar 850 tenaga kerja pada fase operasi.

"Proyek ini harus mampu memberikan nilai tambah bagi masyarakat lokal, membuka kesempatan kerja, memberdayakan pengusaha daerah agar ikut menjadi bagian dari rantai pasok industri yang sangat besar ini," imbuhnya. 

Sementara itu, Presiden dan CEO Inpex Corporation, Takayuki Ueda mengaku sangat antusias memasuki tahap FEED untuk proyek LNG Abadi, yang merupakan pencapaian penting dalam proyek ini. 

Ueda menyebut pihaknya akan berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia karena tidak hanya meningkatkan ketahanan energi dan ketersediaan pasokan, tetapi juga dengan mendorong pertumbuhan ekonomi dan menciptakan lapangan kerja selama 30 tahun. 

“Proyek ini juga akan menjadi proyek LNG pertama di Indonesia yang menerapkan teknologi carbon capture and storage (CCS) sejak awal. CCS akan membantu mendorong upaya dekarbonisasi Indonesia sambil tetap menyediakan energi bagi negara,” katanya. 

Sejalan dengan pelaksanaan FEED, tambah dia, Inpex juga mempercepat pemasaran dan pembiayaan untuk mempercepat FID serta menjalin kerja sama dengan lembaga keuangan dan bank internasional untuk mendapatkan pembiayaan yang kompetitif.

“Dengan dukungan yang berkelanjutan, kami akan secara konsisten melaksanakan FEED, persiapan lokasi, serta mempercepat kesiapan pemasaran dan pembiayaan untuk bergerak menuju FID, dan seterusnya,” ucapnya. 

Proyek Abadi Masela ditaksir sanggup memproduksi 9,5 juta ton LNG per tahun, setara dengan lebih dari 10% impor LNG tahunan Jepang. Selain itu, proyek ini juga diestimasikan mengakomodasi gas pipa 150 MMSCFD, serta 35.000 barel kondensat per hari (BCPD).

Saat ini, pemegang hak partisipasi di Blok Masela adalah Inpex Masela Ltd. dengan porsi 65%. Tadinya, sisa 35% hak partisipasi di blok tersebut dikendalikan oleh Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Per Juli 2023, sebanyak 35% hak Partisipasi Shell dilego ke PT Pertamina Hulu Energi (PHE) Masela dan Petrolian Nasional (Petronas) Masela Berhad dengan pembagian porsi masing-masing sebesar 20% dan 15%.

(mfd/wdh)

No more pages