Logo Bloomberg Technoz

Di Asia, berdasarkan data Bloomberg, baht Thailand berhasil memimpin penguatan dengan 0,64%, ringgit Malaysia terapresiasi 0,49%, lalu menyusul dolar Taiwan 0,49%, yuan dengan positif 0,22%, dan dolar Hong Kong dengan penguatan 0,06%.

Penguatan/Pelemahan Nilai Tukar Mata Uang Asia (Bloomberg)

Sedang won Korea masih terpeleset 0,29% terhadap dolar AS, menyusul di posisi kedua dan ketiga, yen Jepang (0,22%), dolar Singapura (0,11%), dan rupee India yang juga sekaligus menjadi mata uang dengan pelemahan terkecil di Asia sepanjang hari ini (0,05%)

Indeks dolar AS sepanjang hari ini bergerak stabil pada level 97,906 sehingga memberikan ruang pada mata uang tandingannya untuk lebih bertenaga.

Di pasar offshore, rupiah NDF bergerak di kisaran Rp16.262/US$, menguat 0,12% dibanding posisi Jumat pekan lalu.

Manuver Dollar Index (menggambarkan posisi greenback di hadapan 6 mata uang utama dunia) yang stabil dan berhasil membuat rupiah menguat, seiringan juga dengan arus beli yang terus membesar di pasar saham.

DXY (Sumber: Bloomberg)

IHSG yang dibuka hijau, sampai dengan penutupan pasar hari ini masih bertahan dengan penguatan 0,87% pada level 7.962.

Adapun, mengutip riset Panin Sekuritas, Aliran Modal di pasar keuangan periode pekan ketiga Agustus 2025 berhasil mencatatkan beli neto sebesar Rp0,91 triliun dengan perincian: (1) inflow sebesar Rp2,31 triliun di pasar saham, (2) outflow Rp0,62 triliun di pasar SBN, dan (3) inflow pada SRBI sebesar Rp0,78 triliun.

Selain itu, lanjut pada riset yang sama, posisi yield SBN 10 tahun turun ke 6,30% (vs 6,37%) dan CDS Indonesia turun ke 66,97 bps (vs 67,72).

Gerak pasar kebanyakan terdorong oleh sentimen terkait penurunan bunga acuan Amerika Serikat (AS) pada pertemuan September dan juga sisa tahun 2025. Pernyataan Gubernur The Fed Jerome Powell, dalam pidatonya Jumat lalu, memberi sinyal kemungkinan dimulainya kembali pemangkasan suku bunga bulan depan.

Dalam pidatonya di simposium Jackson Hole, Jumat lalu, Powell menegaskan Bank Sentral tidak perlu menunggu data inflasi yang sempurna untuk mulai melonggarkan kebijakan, terutama ketika pasar tenaga kerja menunjukkan tanda–tanda pelemahan.

Dalam catatan tertulis Bloomberg, Jerome Powell menggunakan pidatonya pada Jumat untuk mengisyaratkan Federal Reserve kemungkinan akan memangkas suku bunga pada September, setelah mempertahankan suku bunga acuannya selama delapan bulan pertama tahun ini.

Powell menyoroti “Pergeseran keseimbangan risiko,” yang “Mungkin memerlukan penyesuaian sikap kebijakan kami,” merujuk pada data tenaga kerja yang secara mengejutkan lemah yang dirilis setelah pertemuan kebijakan The Fed.

Para pedagang di pasar keuangan turut mencermati Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang akan menggelar lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (26/8/2025) dengan target indikatif mencapai Rp27 triliun yang dapat diperbesar hingga Rp67,5 triliun, terdiri dari SPN tenor 3 bulan–1 tahun serta obligasi negara dengan kupon 5,87%–7,125% dan jatuh tempo antara 2031 hingga 2064.

Bersamaan dengan itu, Kemenkeu telah membuka penawaran Sukuk Ritel Seri SR023 dengan dua tenor yang ditawarkan yakni: (1) ST023T3 dengan kupon 5,80%/p.a dan (2) SR023T5; 5,95% p.a. Tanggal penawaran umum final adalah 4 September 2025.

(fad)

No more pages