Jika ditilik dari sisi ROA, situasinya serupa. Beberapa emiten kecil memiliki ROA sekitar 2%, setara dengan capaian BUMN. Sebut saja PT Janu Putra Sejahtera Tbk (AYAM) dengan ROA 2,03% dan market cap Rp696 miliar, PT Batavia Prosperindo Trans (BPTR) dengan ROA 2,05% dan kapitalisasi Rp349,87 miliar, serta PT Golden Flower Tbk (POLU) dengan ROA 2,05% dan market cap Rp5,55 triliun.
Tak ketinggalan, PT Pacific Strategic Financial Tbk (APIC) memiliki ROA 2,08% dengan kapitalisasi Rp13,59 triliun, sementara PT Putra Mandiri Jembar Tbk (PMJS) mencatat ROA 2,11% dengan market cap Rp1,61 triliun. Data ini menegaskan bahwa kemampuan BUMN menghasilkan laba masih belum optimal jika dibandingkan dengan aset yang mereka kelola.
Fenomena ini menjadi sorotan kalangan pasar modal. Pengamat pasar modal sekaligus Guru Besar Universitas Indonesia, Budi Frensidy menilai investor masih memandang kinerja BUMN kurang menarik karena isu tata kelola dan adanya risiko penugasan pemerintah.
“Beberapa investor kurang tertarik pada saham BUMN karena terjadinya kasus di BUMN Karya dan kemungkinan mereka mendapat penugasan dari pemerintah untuk mendukung program-program pemerintah,” ujar Budi.
Padahal, tidak semua BUMN mencatat kinerja lemah. Ada segelintir raksasa seperti PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan kapitalisasi pasar Rp624,42 triliun dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) Rp457,33 triliun yang menjadi penopang utama pasar modal Indonesia. Namun, secara rata-rata, angka profitabilitas BUMN tetap tertahan di level rendah akibat kinerja sejumlah entitas yang tertinggal jauh.
Menurut Budi, perbaikan tata kelola dan efisiensi menjadi kunci agar BUMN bisa memperbaiki daya saing. Tanpa langkah reformasi, laba BUMN akan terus berada di level yang ironis setara dengan emiten-emiten receh yang kapitalisasi pasarnya ratusan miliar hingga belasan triliun rupiah saja.
(red)































