Logo Bloomberg Technoz

Dengan masuknya bulan September 2025, masyarakat Jawa kembali mengacu pada perpaduan tiga kalender sekaligus: kalender Masehi, Hijriah, dan kalender Jawa. Hal ini menunjukkan betapa fleksibelnya tradisi Jawa dalam menerima berbagai sistem penanggalan, sekaligus menjaga keberlanjutan nilai budaya.

September 2025: Dari Rabiul Awal ke Rabiul Akhir

Ilustrasi Kalender September 2025 (Envato/Diolah)

Perhitungan kalender menunjukkan bahwa awal September 2025 dimulai dengan Senin Legi yang bertepatan dengan 8 Rabiul Awal 1447 H. Sementara itu, akhir bulan ditutup dengan Selasa Kliwon, 30 September 2025, yang bertepatan dengan 8 Rabiul Akhir 1447 H.

Artinya, sepanjang bulan ini, masyarakat Muslim di Indonesia akan melintasi dua bulan dalam kalender Hijriah, yaitu Rabiul Awal dan Rabiul Akhir. Keduanya memiliki makna penting, terutama Rabiul Awal yang dikenal sebagai bulan kelahiran Nabi Muhammad SAW.

Puncak perayaan spiritual terjadi pada Jumat Kliwon, 5 September 2025, yang bertepatan dengan 12 Rabiul Awal 1447 H. Tanggal ini menjadi momentum penting peringatan Maulid Nabi, di mana umat Islam di seluruh dunia menggelar kegiatan doa bersama, pengajian, dan tradisi keagamaan lainnya.

Maulid Nabi: Hari Raya Penuh Makna

Peringatan Maulid Nabi bukan sekadar hari libur nasional. Lebih dari itu, ia merupakan momentum reflektif bagi umat Islam untuk meneladani kehidupan Rasulullah SAW. Dalam banyak masyarakat, peringatan ini diperingati dengan tradisi pembacaan shalawat, pembagian makanan, hingga pertunjukan seni bernuansa Islam.

Di Jawa, peringatan Maulid Nabi sering kali juga dipadukan dengan tradisi lokal. Misalnya, acara sekaten di Yogyakarta dan Surakarta, yang menjadi ajang berkumpulnya masyarakat untuk mengenang nilai-nilai luhur Islam. Hal ini menunjukkan betapa kuatnya integrasi antara nilai agama dan budaya Jawa.

Momentum Maulid Nabi tahun ini juga semakin spesial karena bertepatan dengan Jumat Kliwon. Dalam tradisi Jawa, Jumat Kliwon dianggap memiliki energi spiritual yang tinggi, sehingga banyak masyarakat memperlakukannya dengan penuh kekhidmatan.

Detail Kalender Jawa September 2025

Ilustrasi kalender Jawa September 2025 (Dok. Kalender Indonesia)

Berikut adalah rincian tanggal penting dalam kalender Jawa bulan September 2025:

* Senin Legi, 1 September 2025 = 8 Rabiul Awal 1447 H

* Selasa Pahing, 2 September 2025 = 9 Rabiul Awal 1447 H

* Rabu Pon, 3 September 2025 = 10 Rabiul Awal 1447 H

* Kamis Wage, 4 September 2025 = 11 Rabiul Awal 1447 H

* Jumat Kliwon, 5 September 2025 = 12 Rabiul Awal 1447 H (Maulid Nabi Muhammad SAW)

* Sabtu Legi, 6 September 2025 = 13 Rabiul Awal 1447 H

* Ahad Pahing, 7 September 2025 = 14 Rabiul Awal 1447 H

* Senin Pon, 8 September 2025 = 15 Rabiul Awal 1447 H

* Selasa Wage, 9 September 2025 = 16 Rabiul Awal 1447 H

* Rabu Kliwon, 10 September 2025 = 17 Rabiul Awal 1447 H

* Kamis Legi, 11 September 2025 = 18 Rabiul Awal 1447 H

* Jumat Pahing, 12 September 2025 = 19 Rabiul Awal 1447 H

* Sabtu Pon, 13 September 2025 = 20 Rabiul Awal 1447 H

* Ahad Wage, 14 September 2025 = 21 Rabiul Awal 1447 H

* Senin Kliwon, 15 September 2025 = 22 Rabiul Awal 1447 H

* Selasa Legi, 16 September 2025 = 23 Rabiul Awal 1447 H

* Rabu Pahing, 17 September 2025 = 24 Rabiul Awal 1447 H

* Kamis Pon, 18 September 2025 = 25 Rabiul Awal 1447 H

* Jumat Wage, 19 September 2025 = 26 Rabiul Awal 1447 H

* Sabtu Kliwon, 20 September 2025 = 27 Rabiul Awal 1447 H

* Ahad Legi, 21 September 2025 = 28 Rabiul Awal 1447 H

* Senin Pahing, 22 September 2025 = 29 Rabiul Awal 1447 H

* Selasa Pon, 23 September 2025 = 1 Rabiul Akhir 1447 H

* Rabu Wage, 24 September 2025 = 2 Rabiul Akhir 1447 H

* Kamis Kliwon, 25 September 2025 = 3 Rabiul Akhir 1447 H

* Jumat Legi, 26 September 2025 = 4 Rabiul Akhir 1447 H

* Sabtu Pahing, 27 September 2025 = 5 Rabiul Akhir 1447 H

* Ahad Pon, 28 September 2025 = 6 Rabiul Akhir 1447 H

* Senin Wage, 29 September 2025 = 7 Rabiul Akhir 1447 H

* Selasa Kliwon, 30 September 2025 = 8 Rabiul Akhir 1447 H

Harmoni Tradisi dan Modernitas

Menariknya, meski masyarakat Jawa semakin akrab dengan teknologi modern, kalender Jawa tetap menjadi rujukan penting. Bahkan, di era digital saat ini, kalender Jawa tersedia dalam bentuk aplikasi dan website, memudahkan generasi muda untuk mengaksesnya.

Hal ini membuktikan bahwa tradisi tidak hilang meski zaman berubah. Justru dengan teknologi, kalender Jawa semakin mudah dijangkau, tidak hanya oleh masyarakat Jawa tetapi juga masyarakat Indonesia secara luas.

Keberadaan kalender ini juga menjadi bukti bahwa budaya lokal memiliki daya tahan tinggi. Kalender Jawa bukan hanya tentang perhitungan hari, tetapi juga identitas dan kearifan lokal yang terus diwariskan lintas generasi.

Makna Spiritual dan Sosial

Bagi umat Islam, bulan Rabiul Awal bukan hanya tentang perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW, tetapi juga pengingat akan pentingnya meneladani akhlak Rasul. Melalui peringatan Maulid Nabi, masyarakat diajak untuk memperkuat ukhuwah, meningkatkan kepedulian sosial, dan memperkokoh nilai-nilai spiritual.

Di sisi lain, kalender Jawa memberi ruang bagi masyarakat untuk memahami keterkaitan antara waktu, tradisi, dan spiritualitas. Perpaduan antara hari pasaran, tanggal Hijriah, dan kalender Masehi mencerminkan harmoni antara budaya dan agama yang hidup berdampingan di tengah masyarakat Jawa.

Kalender yang Tetap Relevan

Ilustrasi Kalender September 2025 (Envato/Diolah)

Kalender Jawa bulan September 2025 bukan sekadar penanggalan biasa. Ia menghadirkan makna yang lebih luas, mulai dari perhitungan adat, penentuan hari baik, hingga momentum religius seperti peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW.

Dengan adanya perpaduan kalender Masehi, Hijriah, dan Jawa, masyarakat Indonesia memiliki warisan budaya yang unik. Tradisi ini bukan hanya dipertahankan, tetapi juga diperkuat melalui generasi baru yang terus menggunakannya.

Seiring perkembangan zaman, kalender Jawa akan tetap relevan sebagai panduan kehidupan, pengingat tradisi, serta penghubung spiritualitas masyarakat. Momentum Maulid Nabi pada September 2025 pun menjadi bukti bahwa tradisi dan agama dapat berjalan berdampingan, menciptakan harmoni dalam kehidupan sosial dan budaya.

(seo)

No more pages