Pemerintahan Trump telah mengurangi nada konfrontatifnya terhadap Beijing baru-baru ini untuk mengamankan pertemuan dengan Xi dan kesepakatan dagang. Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan pertemuan antara kedua pemimpin kemungkinan besar akan terjadi, meski tanggalnya belum ditentukan.
Pekan lalu, Trump memperpanjang jeda kenaikan tarif atas barang-barang China selama 90 hari lagi hingga awal November. Langkah ini menstabilkan hubungan perdagangan antara dua ekonomi terbesar di dunia tersebut.
Pasalnya, AS dan China sepakat untuk mengurangi kenaikan tarif balasan dan melonggarkan pembatasan ekspor magnet tanah jarang dan teknologi tertentu. S&P Global Ratings mengatakan pendapatan dari tarif Trump akan membantu meringankan dampak pemotongan pajak presiden terhadap kesehatan fiskal AS, sehingga AS bisa mempertahankan peringkat kreditnya saat ini.
Namun, sengketa dagang dengan China tetap menimbulkan dampak negatif bagi AS. Caleb Ragland, Ketua Asosiasi Kedelai Amerika, dalam suratnya pada Trump tertanggal Selasa, mengatakan petani kedelai AS di ambang "jurang perdagangan dan keuangan" dan tidak bisa bertahan jika sengketa ini berkepanjangan.
Trump pekan lalu mengatakan berharap China akan meningkatkan impor kedelai AS secara besar-besaran. China belum membeli satu pun kargo kedelai dari panen berikutnya, yang dimulai pada September.
Dalam langkah yang kemungkinan besar akan membuat Beijing kesal, pemerintahan Trump berencana memperketat pengawasan impor baja, tembaga, litium, dan material lainnya dari negara dengan ekonomi terbesar kedua di dunia untuk menegakkan larangan AS terhadap barang-barang yang diduga diproduksi dengan kerja paksa di wilayah Xinjiang, China.
Rencana ini sejalan dengan tujuan perdagangan Trump, mengingat ia ingin mengurangi defisit perdagangan AS dengan China dan menekan Beijing untuk membatasi pengiriman fentanil dan bahan kimia prekursor.
Awal bulan ini, Trump menggandakan tarif atas barang-barang India menjadi 50%, dengan alasan sebagai hukuman atas pembelian minyak diskon dari Rusia, yang menurutnya membantu mendanai perang Presiden Vladimir Putin melawan Ukraina.
Ada kekhawatiran bahwa AS juga akan menargetkan negara lain—China adalah pembeli terbesar minyak mentah Rusia—tetapi sejauh ini India menjadi satu-satunya negara ekonomi besar yang terkena tarif sekunder itu.
Bessent membela keputusan pemerintah yang tidak memberlakukan tarif sekunder terhadap China dalam wawancara dengan CNBC. Alasannya, India baru meningkatkan impornya setelah invasi skala penuh Kremlin ke Ukraina pada tahun 2022.
(bbn)































