Salah satu pengunjuk rasa, yang sedang berbicara melalui pengeras suara, diseret polisi dan dibawa pergi. Seorang demonstran lainnya juga ditahan dan dibawa pergi.
Menurut email dari Jill Green, juru bicara Departemen Kepolisian Redmond, sebanyak 18 orang ditangkap atas tuduhan yang mencakup pelanggaran batas masuk, perusakan dengan sengaja, melawan penangkapan, dan menghalangi tugas polisi.
"Microsoft sangat menghargai dan mendukung tindakan petugas kepolisian setempat dan Departemen Kepolisian Redmond," kata perusahaan dalam pernyataannya.
Kelompok karyawan di balik protes tersebut, No Azure for Apartheid, ingin perusahaan berhenti menjual layanan cloud dan perangkat kecerdasan buatan (AI) ke Israel. Menurut mereka, penggunaan produk Microsoft berkontribusi pada kematian warga sipil di Gaza.
Azure, divisi komputasi awan Microsoft, menjual perangkat lunak dan penyimpanan data sesuai permintaan ke berbagai perusahaan dan pemerintah di seluruh dunia.
Microsoft sebelumnya memecat beberapa koordinator No Azure for Apartheid karena mengadakan kegiatan, yang dianggap perusahaan, ilegal di kampus dan mengganggu pidato para eksekutif.
Dalam unggahan blog yang terbit pada Mei, perusahaan mengatakan mereka "belum menemukan bukti hingga saat ini bahwa teknologi Azure dan AI Microsoft telah digunakan untuk menyerang atau melukai orang-orang dalam konflik di Gaza."
Namun, Microsoft bulan ini mengatakan telah menunjuk firma hukum Covington & Burling untuk melakukan peninjauan lebih lanjut setelah ada laporan bahwa badan pengawasan militer Israel menyadap jutaan panggilan telepon seluler yang dilakukan warga Palestina di Gaza dan Tepi Barat dan menyimpannya di server Azure.
Data tersebut membantu menentukan pemilihan target pengeboman di Gaza, menurut laporan surat kabar Guardian, publikasi Israel-Palestina +972 Magazine, dan Local Call, situs berita berbahasa Ibrani.
"Seperti yang kami jelaskan, Microsoft berkomitmen pada standar hak asasi manusia dan ketentuan layanan kontraknya, termasuk di Timur Tengah," kata perusahaan pada Rabu. Microsoft menegaskan kembali rencana untuk "meninjau menyeluruh dan independen" atas tuduhan terbaru tersebut.
(bbn)
































