Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Juli masih berada di 2,37% secara tahunan (year-on-year/yoy). Sepanjang 2025 (year-to-date/ytd), inflasi berada di 1,69%.
Sejumlah lembaga internasional pun meramal inflasi Indonesia masih rendah. Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi laju inflasi Indonesia pada 2025 ada di 1,7%. Angka yang sama juga diperkirakan oleh Bank Dunia.
Kemudian Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan inflasi Indonesia tahun ini ada di 2%. Lalu perkiraan Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) adalah 2,3%.
Inflasi yang terkendali semestinya menjadi salah satu prasyarat bagi penurunan suku bunga acuan. Sebab saat inflasi tidak melonjak, artinya permintaan masih bisa ditingkatkan dan itu bisa dilakukan dengan memangkas suku bunga sehingga rumah tangga dan dunia usaha bisa melakukan ekspansi.
Rupiah Perkasa
Kemudian, nilai tukar rupiah pun relatif stabil. Sepanjang Agustus (month-to-date/mtd), rupiah membukukan penguatan 1,03% terhadap dolar Amerika Serikat (AS).
Rupiah pun menjadi salah satu mata uang dengan kinerja terbaik di Asia. Hanya kalah dari yen Jepang dengan penguatan 2,18% dan peso Filipina yang terapresiasi 1,91%.
Arus modal asing pun cukup deras masuk ke Indonesia. Sepekan lalu, BI mencatat investor asing melakukan beli bersih (net buy) di pasar keuangan Tanah Air senilai Rp 15,31 triliun. Terdiri dari net buy Rp 5,37 triliun di pasar saham, Rp 7,88 triliun di pasar Surat Berharga Negara (SBN), dan Rp 2,05 triliun di Sekuritas Rupiah BI (SRBI).
Oleh karena itu, BI sebenarnya relatif tidak perlu cemas bahwa penurunan suku bunga bisa menurunkan minat terhadap instrumen keuangan di Indonesia. Sebab, investor asing masih berbondong-bondong masuk.
Pertumbuhan Ekonomi Perlu Dipacu
Selain itu, penurunan suku bunga acuan juga dibutuhkan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Tahun ini, asumsi pertumbuhan ekonomi di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) adalah 5,2%.
Kondisi perekonomian domestik memang mengirim peringatan sehingga membutuhkan dukungan agar tak makin terperosok. Meski BI masih optimistis ekonomi RI di sisa tahun ini membaik sehingga bisa mengejar pertumbuhan antara 4,6-5,4%, ekonom menilai capaian laju Produk Domestik Bruto (PDB) tahun ini akan sulit menyentuh 5% apalagi di atasnya.
"Tarif resiprokal 19% meski lebih rendah daripada semula, masih merupakan lonjakan pungutan yang cukup besar bagi eksportir dan konsesi yang diberikan (oleh Indonesia pada AS) akan membebani pertumbuhan," kata Tamara Mast Henderson, Ekonom Bloomberg Economics.
Nyatanya, perekonomian Indonesia sudah terseok-seok dalam kelesuan sebelum kebijakan tarif AS diumumkan. Konsumsi rumah tangga sampai saat ini belum mampu bangkit ke level prapandemi.
Maka, penurunan suku bunga acuan untuk mendorong pertumbuhan sudah menjadi sebuah kebutuhan. "BI Rate bisa diturunkan ke 4,5% tahun ini," kata Kepala Ekonom Trimegah Sekuritas Fakhrul Fulvian.
Terkait ini, Fakhrul memberi catatan bahwa, kondisi kestabilan sektor keuangan yang tercapai saat ini, dengan adanya stabilitas rupiah akan terus memberikan ruang penurunan suku bunga ditengah isu pelemahan daya beli. Bank sentral AS The Federal Reserve juga diperkirakan akan memotong suku bunga acuan 2-3 kali tahun ini sehingga seharusnya memberikan keleluasaan untuk kebijakan moneter di MH Thamrin.
Terkait reaksi di pasar keuangan, Fakhrul memandang pasar saham masih akan mengalami euforia setelah pemotongan suku bunga bulan lalu. "Saham perbankan akan menjadi sektor yang akan membawa IHSG menuju 8.000," ujarnya.
Fakhrul juga cukup bullish terhadap rupiah. Dia memperkirakan mata uang Nusantara bisa menguat ke kisaran Rp 15.800/US$ pada akhir kuartal III-2025. Pada akhir tahun, rupiah bahkan bisa menguat hingga ke level Rp 15.500/US$.
"(Penguatan rupiah) ditopang oleh realokasi cadangan devisa negara-negara surplus di Asia dari US Treasury ke instrumen negara partner dagang mereka, seperti obligasi negara Indonesia," sebutnya.
- Dengan asistensi Muhammad Julian dan Ruisa Khoiriyah -
(aji)






























