"Pada tahun 2024, OJK juga telah menerbitkan panduan resiliensi digital bagi industri bank umum yang dapat menjadi acuan bagi bank umum dalam mempersiapkan dan menghadapi serta kembali pulih setelah terjadinya gangguan operasional teknologi atau disrupsi serangan siber dengan meminimalkan antara lain kerugian nasabah, kerusakan reputasi, dan kerugian finansial."
"Hal tersebut juga merupakan salah satu wujud dukungan OJK terhadap perbankan Indonesia dalam meningkatkan akselerasi transformasi digital serta memperkuat ketahanan bisnis dan operasional bank di era digital dalam mendukung perekonomian nasional," pungkasnya.
Capaian Sektor Perbankan Kuartal II
Sekadar catatan saja, OJK melaporkan total jumlah kredit perbankan mencapai Rp8.059,79 triliun hingga Juni 2025 atau naik 7,77% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya senilai Rp7.478,4 triliun. Namun, capaian tersebut tumbuh melambat jika dibandingkan periode bulan sebelumnya atau hingga Mei 2025 yang mengalami kenaikan pertumbuhan secara tahunan hingga mencapai 8,43%.
"Pada Juni 2025, kredit tumbuh 7,77% yoy menjadi sekitar Rp8.059,79 triliun," ujar Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner (RDK) Juli, Senin (4/8/2025).
Dari sisi penggunaannya, Dian mengatakan, kredit investasi menjadi penopang pertumbuhan secara tahunan (yoy) tertinggi mencapai 12,53%, diikuti oleh kredit konsumsi yang berada di posisi kedua dengan pertumbuhan 8,49%. Sementara, kredit modal kerja hanya tumbuh 4,45%.
Dari sisi kepemilikan, Bank Umum swasta domestik mengalami pertumbuhan paling tinggi dengan peningkatan sebesar 10,78% yoy. Sementara dari sisi debitur, kredit korporasi juga tumbuh sebesar 10,78%.
"Sementara, kredit UMKM [usaha mikro, kecil, dan menengah] tumbuh sebesar 2,18% di tengah upaya perbankan yang berfokus pada pemulihan kualitas kredit UMKM," tutur Dian.
Lebih rinci, penyaluran kredit terbesar masih ditempati oleh pertambangan dan penggalian yang tumbuh double digit mencapai 20,69% secara tahunan. Sektor jasa tercatat juga tumbuh 19,17%, diikuti sektor transportasi dan komunikasi yang tumbuh 17,94%, serta listrik, gas, dan air sebesar 11,23%.
Dari sisi permodalan, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) per Juni 2025 tercatat sebesar 25,81%, turun tipis dari bulan sebelumnya yang masih sebesar 25,48%. Tetapi, rasio ini masih berada jauh di atas ambang batas minimum yang ditetapkan regulator.
Untuk risiko kredit dan likuiditas dinilai tetap terkendali, yang tercermin dari rasio net interest margin (NIM) per Juni 2025 yang tercatat di level 4,48%, atau naik tipis dari bulan sebelumnya yang berada di level 4,45%. Namun secara tahunan, posisi ini masih lebih rendah dibandingkan NIM Juni 2024 lalu yang masih mencapai 4,57%.
(wep)
































