“Ini dipicu oleh gelombang atmosfer seperti Madden-Julian Oscillation (MJO) dan gelombang Kelvin, yang meningkatkan potensi hujan,” terang Guswanto.
Faktor ketiga, adanya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). “Pemerintah DKI Jakarta melakukan penyemaian awan sejak 17 Agustus untuk mencegah hujan saat upacara HUT RI. Setelah operasi dihentikan atau dialihkan, awan yang tertahan bisa kembali aktif dan menurunkan hujan,” ujarnya.
Dan yang keempat dikarenakan Labilitas Atmosfer. “Perbedaan suhu ekstrem antara siang dan malam menciptakan kondisi atmosfer yang tidak stabil, memicu hujan dan bahkan petir,” kata Guswanto.
Bukan Pancaroba
Kondisi cuaca yang tidak menentu yang terjadi, BMKG pastikan bukan dikarena sudah masuk musim pancaroba.
BMKG juga menegaskan bulan Agustus masih musim kemarau. “Bukan, musim pancaroba dari kemarau ke musim hujan itu biasanya di Bulan September, Oktober dan November,” tutup Guswanto.
(spt)






























