Dia memaparkan, berdasarkan data dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan Perhimpunan Penggilingan Padi Indonesia (Perpadi), hingga Agustus 2025, produksi beras mencapai 24,95 juta ton dan Bulog hanya menguasai 17,2% atau sebesar 4,2 juta ton. Dari 4,2 juta ton tersebut, lebih dari 99% merupakan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
“Meskipun porsi penguasaan pasokan tersebut relatif rendah, KPPU menilai bahwa peranan Bulog tetap penting untuk mempengaruhi pergerakan harga beras di pasar agar lebih stabil,” tuturnya.
Dengan peran Bulog yang strategis sebagai pengelola cadangan pangan nasional, KPPU menilai peningkatan kapasitas dan dukungan kebijakan sangat diperlukan.
“Langkah ini diharapkan dapat membantu mengendalikan harga, menjaga kualitas beras yang beredar di pasaran, serta memastikan keterjangkauan dengan tetap menjaga kesempatan usaha yang sama bagi masyarakat,” ujarnya.
Menyitir Panel Harga Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) pada Senin (18/8/2025) pukul 10.50 WIB, harga rata-rata beras premium di tingkat konsumen mencapai Rp16.088/kg secara nasional. Harganya naik 7,97% dari HET nasional beras premium yang dipatok sebesar Rp14.900/kg.
Sementara harga beras medium yang secara rata-rata nasional juga naik menjadi Rp14.260/kg. Harga beras tersebut naik 14,08% dari HET nasional yang semestinya di level Rp12.500/kg.
(ain)
































